|
Menyoal Setan yang Salah
Sebab, selera masyarakat diciptakan. Dulu, saat telenovela yang pertama
ditayangkan, jumlah penontonnya tak banyak. Setelah film-film semacam ini
diputar terus-menerus, barulah ratingnya terus naik. Rating pun tak selalu dijadikan acuan para media planner memasang iklan. Pada intinya, mereka menempatkan iklan
di program televisi yang sekiranya efektif mengenai target pasar produk yang
diiklankan. Karena itulah slot iklan Film Seri X-Files tak pernah sepi. Serial ini, walaupun ratingnya tak tinggi,
namun penontonnya cukup homogen sebagai sasaran produk tertentu. Hampir separuh masyarakat kita –49% tepatnya, menurut data Bank Dunia–mempunyai
daya beli di bawah US$ 2 per hari. Dengan kemampuan seperti ini, besar
kemungkinan mereka menelan apa saja yang ditayangkan televisi, apalagi jika tak
ada pilihan. Tapi, kalau kita mau bersusah payah sedikit, menayangkan program
yang mendidik, masyarakat yang separuh itu akan berkembang. Termasuk juga tingkat
konsumsinya. Artinya, dalam jangka panjang, mereka juga akan menjadi pasar yang
menjanjikan bagi industri televisi. Suatu investasi yang seharusnya kita mulai
dari sekarang. RATING, sistem pemeringkatan program yang belum ada bandingannya ini, diterima
pekerja televisi dengan rasa ambigu. Saat angkanya rendah, ia dihujat.
Sebaliknya, saat rangking program menanjak, kita tak hendak menggugat. Ambiguitas
kadang menimbulkan guilty pleasure
yang tiada tara. Tapi, sudahlah, tak perlu terlalu keras mengkritik diri sendiri. Sebab
manusia memang kerap lupa. Setelah Smackdown
diturunkan oleh Lativi tanpa pembelaan sedikit pun, kita lupa, masih banyak tayangan
kekerasan di layar kita. Kita lupa, dulunya sering menampilkan gambar mayat
berdarah-darah dan orang mati gantung diri. Kita lupa, masih memunculkan visual
vulgar orang berpukul-pukulan di awal berita. Kita membuat talkshow membicarakan berakhirnya Smackdown dan lupa tangan kita pun berlumur darah. Kita juga lupa,
kita bisa menjadikan rating sebagai dalih membuat program sesat atau bisa juga
tidak. Lalu, apa lagi yang akan saya bicarakan? Ah, saya sudah lupa.... |
| Putra Daerah June 18, 2007 01:36 AM PDT Untuk posting yang satu ini kayaknya kita sepakat. Saya juga pernah mengulasnya di blog, tapi lebih ke sisi tv ritualism-nya. Tentu saja tulisan saya nggak sebagus punya sampeyan. Cerio! | ||
| dedoo May 8, 2007 10:27 PM PDT temenan yuk | ||
| empunya blog March 19, 2007 03:43 PM PDT oohhh iya! lupa kalo dulu pernah daftar blog di situ.. | ||
| kandidat doktor February 20, 2007 12:33 AM PST kok driasoetomo.blogspot.com gak diisi-isi? | ||
| the blogger February 19, 2007 04:06 PM PST kalo gitu, si PhD. harus lebih hati-hati kan mencela rating di depan umum.... | ||
| anonymous January 29, 2007 11:21 PM PST Kalau PhDnya bidang seni, sastra atau filsafat sosial, disiplin ilmunya memang tidak mewajibkan pemahaman angka dan statistika. | ||
| bunglon_imut January 27, 2007 07:26 PM PST orang indonesa kan suka latah... ada sesuatu yg baru, diulang2, akhirnya cognitifnya berhasil dipengaruhi.. akhirnya latah nempel terus di kepala... akhirnya yah yg ada itu aja yg dinikmatin.. kalo toh ada suatu hal baru yg bermutu, awalnya mungkin ga ngaruh... tapi coba aja diulang2... sapa tau latah akhirnya orang suka sesuatu yang bermutu. kek gue yg tadinya da demen ngikutin harga bursa... karena diulang2 tiap ari pada ngomongin bursa.. mau ga mau cognitif gue mengacu nyari harga bursa jg... ngitung2 investasi jg, gara2 disekitar gue pada ngitung investasi. intinya pengaruhin dulu si opinion leader atau innovator, tar jg yg lain ngikut... namanya jg bangsa latah... kesukaan pun jadi latah.. gini aja gue sama sekali gak kenal ben nidji sampe semua orang nyanyi2 nidji, pengamen nyanyi nidji, mal2 nyanyi nidji, akhirnya lirik si nidji itu jadi nempel de kepala gue.. padahal soal nidji itu picisan ato mutu gue gak tau, karena gue gak punya kompetensi untuk menilai seni musik... toh gue tuli nada... tapi akihrnya nidji jadi booming baik di kalangan yg ngerti musik atau pun yg nggak... ya karena diulang2 itu, dan semua orang dipaksa mau gak mau harus nikmatin... hal ini jg terjadi di ben2 pendahulunya, kek peterpan dan sheila on tujuh.. tuh kan komen gue jadi gak nyambung... maap maap... | ||
| aria January 24, 2007 09:21 PM PST nyatanya, memang, rating yang dibuat itu hanya 'penting' untuk keperluan pemasang iklan, dan nyaris tak punya nilai apa-apa bagi publik, juga publik 'pemikir' yang pastilah cuma akan menggerutu tak lucu. walau begitu, soal ini harus dibahas terbuka agar tak cuma jadi cemooh sok analitis yang menuding ini dan itu. NB: dria, 'today-on-o'-nya jangan cuma 5 menit dong! minimal setengah jamlah gitu. soalnya sering aku klik, eh, cuma dapet endingnya :( | ||
| Leave a Comment: |