Entry: BUGS ARE BUGGING Wednesday, October 12, 2005



Serangga itu
Namanya Kecoak


BINATANG kecil pipih berkaki enam bergerigi ini biasa muncul di malam hari dari balik dinding dan gorong-gorong. Warnanya cokelat merah kehitaman. Kemunculannya kerap kali membuat orang jijik. Apalagi, ia termasuk serangga yang susah dibasmi.

Kecoak atau lipas sudah hadir sejak 300 juta tahun silam tanpa banyak berevolusi. Ia ditakdirkan untuk bertahankan di segala musim dan iklim, dari panas yang menyengat sampai dingin yang membekukan. Kecoak bahkan lebih resisten terhadap radiasi dibandingkan dengan makhluk lain. Saat bom atom dijatuhkan di Jepang pada era Perang Dunia II, kecoak termasuk spesies yang selamat. Pembelahan sel di tubuh kecoak lebih lambat daripada pembelahan sel di tubuh manusia. Karena itu, sel tubuh mereka lebih tahan menghadapi radiasi.

Planet bumi, saat ini menghidupi lebih dari 3.000 spesies kecoak. Mereka tersebar di dalam rumah, restoran, rumah sakit hingga hutan lebat Amazon.

Hebatnya lagi, kecoak dapat bertahan hidup selama berhari-hari tanpa kepalanya. Betul, kecoak tidak butuh otak untuk alat kontrol tubuh. Ia juga tidak butuh kepala untuk bernapas. Kehilangan kepala juga tidak membuatnya kehabisan darah. Tetapi, ia membutuhkan kepala untuk makan. Jadi, kecoak tanpa kepala akhirnya akan mati juga karena kelaparan.

Di alam bebas, kecoak menjadi santapan burung, mamalia kecil, dan binatang amfibi. Namun di perkotaan, kecoak nyaris tidak punya musuh, kecuali Anda yang mati-matian berusaha membunuhnya, meski sering tidak mudah. Dan kalau Anda mengira kecoak bisa mampus dengan sekali pukul, Anda salah besar! Punggung kecoak memiliki pelindung yang kuat. Beberapa menit berselang, kecoak itu pasti sudah kabur entah ke mana. Kecuali, jika Anda membalik tubuh si kecoak.

Ketahanan kecoak diimbangi pula dengan kecepatannya berkembang biak. Dalam sebulan ia bisa menghasilkan lipas yunior lebih dari 40 ekor. Mereka kaum omnivora. Makan apa saja; feses, lem, sisa makanan di dapur, organisme mati (termasuk mayat manusia), keturunannya sendiri, bahkan bir pun dilahapnya.

Selain menyebabkan fobia pada manusia, kecoak dituding mengontaminasi makanan dengan bakteri dan penyakit. Ia juga dituduh menyebabkan gangguan pernapasan dan memicu asma.

Nah, lalu apa guna kehadiran kecoak? Binatang menjijikkan berjumlah miliaran dan susah dibasmi ini ternyata punya kegunaan. Kecoak itu bagian dari rantai makanan. Kalau ia hilang, ibarat rantai, tanpa kehadirannya, motor atau sepeda Anda tidak akan bisa berjalan. Jadi, tanpa kecoak, hewan pemangsa kecoak juga bisa lenyap. Begitu seterusnya.

Selain sebagai santapan binatang lain, kecoak juga dapat membantu membantu membersihkan lingkungan kita dari sisa-sisa organisme. Mereka kan doyan menyantap sisa-sisa organisme mati.

Jika Anda merasa sudah rajin bembersihkan rumah tetapi masih melihat kecoak menginvasi dapur Anda, jangan buru-buru merasa terintimidasi! Bergembiralah! Percaya atau tidak, ini sesungguhnya bukti bahwa lingkungan rumah anda sudah bersih. Saking bersihnya sampai-sampai tidak menyisakan makanan bagi sejumlah kecil koloni kecoak. Akhirnya, mereka nekad mengorek-ngorek sisa makanan di dapur.

Pernah dengar tidak, kecoak ternyata mengandung protein tinggi? Layak santap dong? Tepat sekali! Asal Anda tidak merasa jijik. Saya punya resepnya.

Kecoak Panggang
Bahan:

- kecoak beberapa ekor
- bawang putih secukupya
- garam secukupnya

Cara memasak:
Potong keenam kaki kecoak serta sayapnya. Buang bagian kepala. Buat irisan memanjang di bagian perut kecoak supaya bumbu meresap. Campur dengan bawang dan garam. Panggang hingga matang. Sajikan.

Nah, kalau Anda tipe penyayang binatang dan tidak tega membunuhnya, silakan dipelihara saja. Saat ini ada saja yang tertarik menjadikan kecoak sebagai binatang kesayangan. Umumnya, mereka memang tertarik pada binatang-bintang eksotis.

Seorang teman saya yang hobi memelihara hewan aneh-aneh, pernah memelihara kecoak pada waktu ia masih kanak-kanak. Jumlahnya dua ekor. Kecoak itu ia kandangkan dalam kotak sepatu dan secara regular ia beri makan. Sayangnya, kedua hewan imut itu melarikan diri saat pembantu rumah tangga teman saya membersihkan kamarnya. Menarik bukan? Mau coba?

   3 comments

pandi merdeka
January 29, 2008   09:55 AM PST
 
hihihi kecoa panggang coba kalo namanya roasted kuch oa xixixixi bisa ngilangin rasa jijik nggak ya..
Isywara Mahendratto
April 28, 2006   07:13 PM PDT
 
Kalo trauma kecoak-nya mau cepet ilang sih, di SERVO Aja....

Kata yang udah pernah, SERVO terapi bisa buat ngilangin trauma kecoak, parno, perfeksionis, dll., pokoknya semua hambatan psikologis.

Klik saja, kata berikut ini, http://groups.yahoo.com/group/TamanBintang/, t’rus join. Abis itu sampeyan cek ke mailbox sampeyan. Biasanya informasi lengkap tentang pemrograman SERVO langsung masuk ke mailbox sampeyan.
chis
December 25, 2005   09:32 PM PST
 
Saya nggak membunuh kecoak di rumah, juga semut, laba-laba dan nyamuk, karena di hadapan Tuhan dan sistem alam saya merasa semua punya hak hidup di bumi ini. Jika mereka mengancam, baru saya bertindak. Saya mengandaikan diri, andai pada posisi mereka. Cuma karena kita tak paham mereka, bukan berarti kita tak bisa mengerti dan berbagi dengan mereka. Saya tak akan membunuh hanya karena jijik, risih, tak suka, atau karena suka (untuk dimakan).

Kita yang selama ini merasa superior di alam ini, merasa berhak melakukan apa pun pada makhluk lain (binatang/tumbuhan) dengan cukup alasan karena tidak suka atau suka, bayangkan andai suatu ketika ada makhluk lain yang lebih superior dari kita, memandang kita manusia tak ubahnya makhluk bumi lain (binatang/tumbuhan). Mereka menganggap kita hama bagi bumi kebun mereka, atau jijik melihat anatomi tubuh kita yang kita anggap sempurna ini, atau makan daging muda anak-anak kita... Kita menjerit dan memohon, mengumpat, tapi mereka tak peduli karena tak paham bahasa kita (seperti kita tak paham bahasa hewan dan tumbuhan)...

Kita tak pernah menghargai air, sampai saat sumur kita kering...
Kita seenaknya membunuh karena hobi, karena jijik atau karena iseng, tapi kita sibuk juga mencari benih-benih kehidupan
di bulan atau di mars...
Inilah kita superior yang (merasa) sempurna itu...

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments