|
Kaum Terbaik SEJARAH Islam diukir dengan darah. Tapi kita tak pernah tahu. Kita diajari untuk menghormati yang suci — utusan Tuhan dan empat khalifahnya yang dijamin masuk surga. Tapi kemudian kita tahu, pelajaran agama bukanlah pelajaran sejarah. ABU BAKAR diangkat menjadi khalifah di saat Ali masih sibuk mengurus pemakaman Sang Nabi, tiga hari setelah kematiannya. Dalam dua tahun dan tiga bulan masa pemerintahannya, Abu Bakar menambah wilayah Islam hingga dua kali lipat. Ribuan musuh dikalahkan dan pertempuran mengambil nama Taman Kematian dan Sungai Darah. Sebelum demam memutus napasnya, Abu Bakar menunjuk Umar sebagai pengganti. UMAR adalah sebagai seorang puritan legendaris. Seperti Nabi Muhammad dan Abu Bakar, ia hanya memiliki uang yang cukup digunakan untuk berhaji dan memberi makan keluarganya. Sebab segala sesuatu yang ekstra akan menjauhkan manusia dari Tuhannya. Umar hanya mengenal dua macam pakaian, satu untuk musim panas dan yang lain untuk musim dingin. Dalam perjalanan jauh, ia tidur di atas pasir dengan selembar kain terbentang menutupi langit di atas kepala. Tak ada matras, tenda ataupun segala bentuk perlakuan khusus. Para hakim pengadilan yang berdiri menghormat saat ia memasuki ruangan dianggapnya sebagai bentuk ketidakadilan yang paling awal. Suatu kali, putranya Abu Shahmah, kedapatan mabuk di depan umum. Ia dihukum sebagaimana mestinya. Abu Shahmah tewas setelah didera 80 kali cambukan. Hikayat mengatakan, bayangan Umar di ambang pintu dapat membuat hening ruangan yang dipenuhi gelak tawa wanita dan anak-anak. Tak ada pengawal maupun prosedur birokratis yang membatasi ia dengan rakyatnya. Setiap hari, ia bisa ditemui di jalan atau di masjid untuk dimintai pendapat. Khalifah kedua ini juga giat melakukan inovasi-inovasi di bidang hukum. Ia berupaya membatasi kemerdekaan perempuan dengan melarang perempuan berhaji, mendorong mereka untuk beribadah di rumah dan menghentikan aktivitas mereka di masjid. Setelah sepuluh tahun memerintah, hari naas itu tiba. Suatu pagi, Abu Lulu Firuz, seorang budak menemuinya di jalan. Ia mengeluhkan perlakuan tuannya — Gubernur Kufah — yang walaupun membebaskannya tinggal di Madinah, membebaninya dengan setoran uang dua dirham setiap hari. Umar bertanya apa keahliannya dan Abu Lulu menjawab, ia adalah seorang tukang kayu dan tukang cat. Bagi Umar, dengan keahlian ini, Abu Lulu dapat memenuhi permintaan tuannya dan masih dapat hidup layak di Madinah. Namun, hidup sebagai budak adalah sesuatu yang tak tertanggungkan lagi oleh Abu Lulu. Ia berulang kali diperbudak sejak kecil oleh penakluk-penakluk yang silih berganti datang ke negerinya, Persia. Pagi-pagi sekali, Abu Lulu datang ke masjid dan menunggu khalifah bersujud dalam doanya. Dengan kekuatan seorang gila, ia menusuk Umar berulang kali sebelum jamaah lain menariknya menjauh. Pisau Abu Lulu kemudian menyerang siapa saja yang bisa diraihnya, sebelum akhirnya menghujam tubuhnya sendiri dalam-dalam. USMAN menjabat sebagai khalifah berikutnya. Ia dikenal sebagai pria yang tampan dengan tinggi sedang, kulit keemasan dan bahu bidang. Bekas cacar air yang pernah dideritanya waktu kecil masih membekas di pipinya. Giginya dihiasi emas sebagai tanda kehidupannya yang makmur. Usman berasal dari keluarga pedagang terpandang di Mekah. Pada usia 20 tahun ia telah mewarisi sejumlah besar harta yang kemudian ia gunakan sebagai modal untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi. Dalam masa-masa perjuangan yang sulit, Usman merupakan sumber keuangan yang sangat berarti bagi Muhammad. Berbeda dengan Sang Nabi yang sederhana dan kerap kesulitan mengumpulkan mahar untuk perkawinannya, Usman termasuk dalam golongan pria yang dilirik wanita. Selain mampu memberikan mas kawin berharga, ia sangat memperhatikan istri-istrinya. Satu-satunya kekurangan Usman yang diketahui umum adalah ia tak mau berada di garis depan. Di saat kelaki-lakian dan loyalitas pada agama dibuktikan melalui hujaman pedang, Usman melarikan diri dari medan perang Uhud. Muhammad kemudian memberinya pengampunan. Untuk mendapatkan hormat dari para prajurit, Khalifah Usman menaikkan gaji tahunan mereka 100 dirham. Ia juga membangun berbagai fasilitas publik, memperluas masjid dan membangun sumur sebagai sumber air bersih gratis. Dibesarkan dalam keluarga pedagang, membuat Khalifah Usman mengerti betul arti uang dan barang. Jika sebelumnya Khalifah Umar melarang kaum muslim untuk memiliki rumah lebih dari empat ¯ masing-masing untuk satu istri, dengan luasan yang tidak terlalu besar ¯ menganjurkan makanan sederhana, melarang kepemilikan berlebihan budak dan hewan ternak, maka di masa Usman, aturan yang sama tak lagi berlaku. Setiap orang dapat membeli tanah dan rumah di kota-kota lain di Jazirah Arab: Mekah, Madinah, Damaskus, Kufah dan Basrah. Usman membangun masjid-masjid megah berlapis pualam. Untuk dirinya sendiri, ia membangun rumah mewah yang cukup menampung semua istrinya, ruang kerja untuk sekretaris dan tamu khalifah, serta dapur yang dapat digunakan untuk memasak makanan bagi siapa saja yang bertandang. Berbagai macam bumbu dan makanan dari negeri lain datang menggantikan roti tawar yang dibuat dari tepung kasar. Segera, muncullah aristokrat-aristokrat baru. Umumnya, mereka adalah para veteran yang memperoleh banyak harta rampasan perang plus gaji yang besar. Rumah super megah berdiri di berbagai kota penting dan menjadi landmark kota, bahkan hingga 100 tahun setelah ia didirikan. Kuda-kuda impor yang tinggi besar di pelihara di istal bersama dengan 1.000 budak dan 1.000 ternak. Keadaan kota-kota di Arab berubah cepat pada masa itu. Anak-anak lahir dari harem-harem yang berisi 4 istri dan 40 selir. Dalam urusan politik dan pemerintahan, Usman lebih percaya pada kerabatnya. Berbeda dengan Umar, Usman mengampuni saudaranya yang tertangkap mabuk arak. Meski dihujani kritik, Usman hanya melihat saudara-saudaranya sebagai kepala pemerintahan yang efisien. Enam tahun pertama pemerintahan Usman adalah kepuasan yang diikuti oleh enam tahun ketidakpuasan masyarakat. Kematian Usman terjadi setelah adzan Jumat dikumandangkan. Para pemberontak yang telah lama mengepung rumahnya, mendapati Usman yang tidak kehilangan ketenangan, membaca Al-Qur'an bersama istrinya Naila. Seorang menarik jenggotnya sebelum menusuk dahinya dengan pedang. Sementara seorang yang lain menghujamkan pedang di belakang telinganya hingga menembus leher. Tidak cukup dengan itu, seorang menduduki dadanya dan menusuk-nusuk tubuhnya. Naila menabrak tubuh suaminya untuk mencegah penghinaan lebih jauh. Dua jarinya putus tertebas pedang. Hari itu, darah khalifah menodai Al-Qur'an yang belum lagi usai dibaca. Warga yang memberontak menolak tubuh Usman dimakamkan di pemakaman para sahabat dan kerabat Nabi. Usman dikuburkan di pemakaman Yahudi yang tak lagi terawat. ALI disahkan menjadi khalifah ke-empat. Sebagian berpendapat, Alilah yang sebenarnya paling berhak meneruskan kepemimpinan Nabi Muhammad, baik secara politis maupun spiritual. Ali adalah keponakan, anak angkat sekaligus menantu Muhammad. Ia adalah laki-laki pertama yang menyatakan masuk Islam. Sebagian muslim kemudian menolak kepemimpinan 3 khalifah pertama yang telah menelikung Ali dari posisi yang seharusnya. Namun, Ali sendiri adalah seorang politikus jujur yang tak pernah memendam cemburu. Tak pernah ia berkata buruk mengenai 3 khalifah pendahulunya. Tak ada trik dan tipuan yang ia mainkan untuk merebut ataupun mempertahankan suatu jabatan. Segera, Ali mengganti kerabat-kerabat Usman yang menjabat di pemerintahan. Masalah datang dari Syria. Gubernur Syria selama 20 tahun, Muawiyah, menuntut keadilan atas kematian Usman. Ia memamerkan pakaian Usman yang robek-robek ternoda darah dan potongan jari Naila, istri Usman yang berasal dari Syria, ke seluruh negeri, sebelum memakukannya ke tembok Masjid Agung Damaskus. Saat perang antara Ali dan Muawiyah hampir dimenangkan oleh pihak Ali, Muawiyah mengusulkan agar persoalan tersebut diajukan ke pengadilan untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi. Dengan dukungan Gubernur Mesir, Amir, Muawiyah kemudian mengangkat dirinya sebagai khalifah di Damaskus dan mempertanyakan keabsahan Ali sebagai khalifah. Perdebatan pengadilan yang berlarut-larut mengecewakan para pendukung Ali. Mereka kebanyakan adalah bekas tentara yang berperang melawan Muawiyah. Kelompok desersi ini kemudian disebut sebagai kaum Khawarij. Untuk merayakan 40 tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah, kaum Khawarij memutuskan untuk mengakhiri kekecewaan pada kondisi politik dan mengembalikan kemurnian Islam. Di hari Jumat minggu ke-dua bulan Ramadhan itu, mereka mengirimkan 3 orang pembunuh, masing-masing ke Masjid Agung Damaskus, Fustat dan Kufah, di mana Muawiyah, Amir dan Ali akan menjadi imam shalat. Namun pada Jumat itu, Amir memutuskan untuk absen sebagai imam. Ia berhasil menangkap calon algojonya sebelum hari berganti. Di Damaskus, Muawiyah memimpin jamaah shalat Jumat. Namun para penjaganya menangkap gerakan-gerakan mencurigakan dan meringkus si calon pembunuh. Di Kufah, pembunuh Ali Ibnu Muljam, mengayunkan pedangnya dengan cepat ke kepala Ali. Khalifah Ali meninggal dunia di usia 63 tahun, usia yang sama dengan Muhammad, Abu Bakar dan Umar meninggal dunia. Untuk menghindari musuh menistakan jasadnya, makam Ali dirahasiakan. Di komunitas Khawarij, Ibnu Muljam disambut sebagai pahlawan. Kematian Ali dijadikannya mas kawin bersama dengan 2 orang budak dan uang 3.000 dirham. Para Khawarij menyanyikan puisi sanjungan, mahar dari Ibnu Muljam merupakan yang terbaik di dunia. Bagi Khawarij, Islam telah dimurnikan, puasa terus dijalankan dan hijrah Sang Nabi dirayakan. Dan setelah 1.400 tahun, kita dengan mudah menarik batas tegas antara yang suci dan yang profan. Namun kita juga tahu, dogma agama tak lahir dari filosofi sejarah. |
| elfizonanwar November 7, 2008 04:59 PM PST ya waktu kita lahir dari rahim ibu, juga ada darah!!! manusia ya manusia berjasad dan berroh kalau jasadnya tidak ada baru darahnya tidak ada juga kalau kita tahu begini maka kita mohon pada tuhan untuk tidak jadi hidup | ||
| Azmi Yudianto September 23, 2008 05:26 PM PDT Mau beli buku Hafal Al Qur’an dalam Sebulan? Hubungi: Azmi Yudianto 0856 4117 4798 ato hubungi lewat email: fariskmm@yahoo.co.id yudi_321@yahoo.co.id http://islamarket.wordpress.com Harga Rp. 22.000 Biaya Kirim ditanggung pembeli. | ||
| ekokuntadhi September 15, 2008 04:25 PM PDT Sebuah tulisan yang menarik dan objektif. Pesannya jelas, bagaimana kita harus memisahkan antara yang sakral dan profan. Seperti juga pesan yang pernah dilontarkan Alm. Cak Nur tentang ide sekularisasi Islam. Cak Nur bermaksud mengajak masyarakat muslim untuk tidak mencampuradukan sesuatu yang sakral dan profan. >Kita diajari untuk menghormati yang >suci — utusan Tuhan dan empat >khalifahnya yang dijamin masuk >surga. Pertanyaan yang bisa diajukan dari kutipan ini adalah : apakah khalifah itu adalah jabatan keagamaan sebagaimana layaknya Nabi/Rasul (utusan Tuhan) atau Imam. Atau dia hanya jabatan politis sebagai kepala pemerintahan. Karena khalifah --yang saya pahami-- adalah jabatan politis, maka ajaran bahwa mereka dijamin masuk surga adalah mencampuradukan yang sesuatu sakral dan profan. Bagaimana mungkin surga yang dijaminkan Tuhan (sakral), ditujukan pada mereka, hanya karena mereka menduduki posisi politik (profan). Dengan cara pandang ini, mungkin dapat membantu kita untuk melakukan penilaian terhadap segala kekisruhan politik yang terjadi pasca wafatnya Nabi. Jika hal itu semua ditempatkan dalam konteks proses politik dan kekuasaan, saya amat yakin kita tidak terjebak pada kesimpulan yang terlalu melompat. | ||
| Leave a Comment: |