dria soetomo
Female
Indonesia

<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31























































































































































































































































































If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, January 23, 2007
RATING

Menyoal Setan yang Salah

APA yang paling disalahkaprahi orang-orang dalam dunia televisi?
Saya akan bilang: Rating. Sistem pemeringkatan ini kerap dihujat. Ia dituding sebagai penyebab televisi kita dipenuhi program-program tak bermutu. Namun, kebanyakan orang yang saya temui membicarakan rating, biasanya tak tahu banyak soalnya. Sepertinya mereka hanya mengulang cerita buruk seseorang tentang rating terus-menerus, hingga akhirnya kisah tersebut dipercaya sebagai realitas. Serupa betul dengan cerita hantu di Pekuburan Jeruk Purut.

Apa yang salah dengan rating televisi versi Nielsen? Tentunya kita semua sepakat, sistem yang mereka gunakan jauh dari sempurna. Alat pengukur bernama people meter itu tak bisa mengerti, terkadang orang menyalakan tv untuk kemudian buang hajat di WC. Kita juga bisa mempertanyakan, sudah benarkah Nielsen mengelompokkan orang dalam kategori-kategori? Sudah benarkah mereka menghitung?

Nyatanya, belum ada lembaga lain yang dapat memeringkat program televisi kita secepat, selengkap dan sedinamis Nielsen. Banyak orang menggugat sistem Nielsen. Namun, saya belum menemukan orang yang mendasari argumennya dengan penelitian yang empiris. Banyak pula yang menggugat dengan angka-angka, tapi, tak jelas benar darimana angka-angka ini datang. Terkadang, saya takjub, seorang Ph.D lulusan negeri seberang pun dapat salah memahami angka-angka dan statistika.

Dan tetap saja, tak ada yang mengajukan sistem yang lebih baik daripada yang digunakan Nielsen sekarang. Sedang programer televisi kita butuh tahu profil penontonnya, kebiasaan mereka, dan di jam mana meletakkan program apa. Mereka membutuhkan data untuk dianalisa. Akhirnya, Rating Nielsen menjadi satu-satunya pilihan. Dan kita, mau tak mau, beriman kepadanya.

SAYANGNYA, apa yang kita imani sering kita wujudkan dalam kelakuan yang keterlaluan. Kadang kita abai, rating hanya menunjukkan program yang paling banyak ditonton, bukan program yang paling bagus, apalagi bermutu. Ia hanya barometer kuantitas bukan kualitas. Di sinilah diperlukan kreativitas para pekerja televisi untuk membuat program yang baik, bukannya menyerah begitu saja pada apa yang ‘kebetulan’ banyak ditonton orang. Andai saja kita punya sedikit komitmen, akan semakin banyak program mendidik ditayangkan.

Sebab, selera masyarakat diciptakan. Dulu, saat telenovela yang pertama ditayangkan, jumlah penontonnya tak banyak. Setelah film-film semacam ini diputar terus-menerus, barulah ratingnya terus naik.

Rating pun tak selalu dijadikan acuan para media planner memasang iklan. Pada intinya, mereka menempatkan iklan di program televisi yang sekiranya efektif mengenai target pasar produk yang diiklankan. Karena itulah slot iklan Film Seri X-Files tak pernah sepi. Serial ini, walaupun ratingnya tak tinggi, namun penontonnya cukup homogen sebagai sasaran produk tertentu.

Hampir separuh masyarakat kita –49% tepatnya, menurut data Bank Dunia–mempunyai daya beli di bawah US$ 2 per hari. Dengan kemampuan seperti ini, besar kemungkinan mereka menelan apa saja yang ditayangkan televisi, apalagi jika tak ada pilihan. Tapi, kalau kita mau bersusah payah sedikit, menayangkan program yang mendidik, masyarakat yang separuh itu akan berkembang. Termasuk juga tingkat konsumsinya. Artinya, dalam jangka panjang, mereka juga akan menjadi pasar yang menjanjikan bagi industri televisi. Suatu investasi yang seharusnya kita mulai dari sekarang.

RATING, sistem pemeringkatan program yang belum ada bandingannya ini, diterima pekerja televisi dengan rasa ambigu. Saat angkanya rendah, ia dihujat. Sebaliknya, saat rangking program menanjak, kita tak hendak menggugat. Ambiguitas kadang menimbulkan guilty pleasure yang tiada tara.

Tapi, sudahlah, tak perlu terlalu keras mengkritik diri sendiri. Sebab manusia memang kerap lupa. Setelah Smackdown diturunkan oleh Lativi tanpa pembelaan sedikit pun, kita lupa, masih banyak tayangan kekerasan di layar kita. Kita lupa, dulunya sering menampilkan gambar mayat berdarah-darah dan orang mati gantung diri. Kita lupa, masih memunculkan visual vulgar orang berpukul-pukulan di awal berita. Kita membuat talkshow membicarakan berakhirnya Smackdown dan lupa tangan kita pun berlumur darah. Kita juga lupa, kita bisa menjadikan rating sebagai dalih membuat program sesat atau bisa juga tidak. Lalu, apa lagi yang akan saya bicarakan? Ah, saya sudah lupa....


Posted at 08:52 pm by dria soetomo

Putra Daerah
June 18, 2007   01:36 AM PDT
 
Untuk posting yang satu ini kayaknya kita sepakat. Saya juga pernah mengulasnya di blog, tapi lebih ke sisi tv ritualism-nya. Tentu saja tulisan saya nggak sebagus punya sampeyan.
Cerio!
dedoo
May 8, 2007   10:27 PM PDT
 
temenan yuk
empunya blog
March 19, 2007   03:43 PM PDT
 
oohhh iya!
lupa kalo dulu pernah daftar blog di situ..
kandidat doktor
February 20, 2007   12:33 AM PST
 
kok driasoetomo.blogspot.com gak diisi-isi?
the blogger
February 19, 2007   04:06 PM PST
 
kalo gitu, si PhD. harus lebih hati-hati kan mencela rating di depan umum....
anonymous
January 29, 2007   11:21 PM PST
 
Kalau PhDnya bidang seni, sastra atau filsafat sosial, disiplin ilmunya memang tidak mewajibkan pemahaman angka dan statistika.
bunglon_imut
January 27, 2007   07:26 PM PST
 
orang indonesa kan suka latah...
ada sesuatu yg baru, diulang2, akhirnya cognitifnya berhasil dipengaruhi.. akhirnya latah nempel terus di kepala...

akhirnya yah yg ada itu aja yg dinikmatin..

kalo toh ada suatu hal baru yg bermutu, awalnya mungkin ga ngaruh... tapi coba aja diulang2... sapa tau latah akhirnya orang suka sesuatu yang bermutu.

kek gue yg tadinya da demen ngikutin harga bursa... karena diulang2 tiap ari pada ngomongin bursa.. mau ga mau cognitif gue mengacu nyari harga bursa jg... ngitung2 investasi jg, gara2 disekitar gue pada ngitung investasi.

intinya pengaruhin dulu si opinion leader atau innovator, tar jg yg lain ngikut...

namanya jg bangsa latah... kesukaan pun jadi latah.. gini aja gue sama sekali gak kenal ben nidji sampe semua orang nyanyi2 nidji, pengamen nyanyi nidji, mal2 nyanyi nidji, akhirnya lirik si nidji itu jadi nempel de kepala gue.. padahal soal nidji itu picisan ato mutu gue gak tau, karena gue gak punya kompetensi untuk menilai seni musik... toh gue tuli nada...
tapi akihrnya nidji jadi booming baik di kalangan yg ngerti musik atau pun yg nggak...

ya karena diulang2 itu, dan semua orang dipaksa mau gak mau harus nikmatin... hal ini jg terjadi di ben2 pendahulunya, kek peterpan dan sheila on tujuh..

tuh kan komen gue jadi gak nyambung...

maap maap...
aria
January 24, 2007   09:21 PM PST
 
nyatanya, memang, rating yang dibuat itu hanya 'penting' untuk keperluan pemasang iklan, dan nyaris tak punya nilai apa-apa bagi publik, juga publik 'pemikir' yang pastilah cuma akan menggerutu tak lucu. walau begitu, soal ini harus dibahas terbuka agar tak cuma jadi cemooh sok analitis yang menuding ini dan itu.

NB: dria, 'today-on-o'-nya jangan cuma 5 menit dong! minimal setengah jamlah gitu. soalnya sering aku klik, eh, cuma dapet endingnya :(
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry