Menyoal Setan
yang Salah
APA yang paling disalahkaprahi orang-orang dalam dunia televisi?
Saya akan bilang: Rating. Sistem pemeringkatan ini kerap dihujat. Ia
dituding sebagai penyebab televisi kita dipenuhi program-program tak bermutu. Namun,
kebanyakan orang yang saya temui membicarakan rating, biasanya tak tahu banyak
soalnya. Sepertinya mereka hanya mengulang cerita buruk seseorang tentang
rating terus-menerus, hingga akhirnya kisah tersebut dipercaya sebagai
realitas. Serupa betul dengan cerita hantu di Pekuburan Jeruk Purut.
Apa yang salah dengan rating televisi versi Nielsen? Tentunya kita semua
sepakat, sistem yang mereka gunakan jauh dari sempurna. Alat pengukur bernama people meter itu tak bisa mengerti, terkadang
orang menyalakan tv untuk kemudian buang hajat di WC. Kita juga bisa
mempertanyakan, sudah benarkah Nielsen mengelompokkan orang dalam
kategori-kategori? Sudah benarkah mereka menghitung?
Nyatanya, belum ada lembaga lain yang dapat memeringkat program televisi
kita secepat, selengkap dan sedinamis Nielsen. Banyak orang menggugat sistem
Nielsen. Namun, saya belum menemukan orang yang mendasari argumennya dengan
penelitian yang empiris. Banyak pula yang menggugat dengan angka-angka, tapi, tak
jelas benar darimana angka-angka ini datang. Terkadang, saya takjub, seorang
Ph.D lulusan negeri seberang pun dapat salah memahami angka-angka dan
statistika.
Dan tetap saja, tak ada yang mengajukan sistem yang lebih baik daripada
yang digunakan Nielsen sekarang. Sedang programer televisi kita butuh tahu
profil penontonnya, kebiasaan mereka, dan di jam mana meletakkan program apa. Mereka
membutuhkan data untuk dianalisa. Akhirnya, Rating Nielsen menjadi satu-satunya
pilihan. Dan kita, mau tak mau, beriman kepadanya.
SAYANGNYA, apa yang kita imani sering kita wujudkan dalam kelakuan yang
keterlaluan. Kadang kita abai, rating hanya menunjukkan program yang paling
banyak ditonton, bukan program yang paling bagus, apalagi bermutu. Ia hanya
barometer kuantitas bukan kualitas. Di sinilah diperlukan kreativitas para
pekerja televisi untuk membuat program yang baik, bukannya menyerah begitu saja
pada apa yang ‘kebetulan’ banyak ditonton orang. Andai saja kita punya sedikit
komitmen, akan semakin banyak program mendidik ditayangkan.
Sebab, selera masyarakat diciptakan. Dulu, saat telenovela yang pertama
ditayangkan, jumlah penontonnya tak banyak. Setelah film-film semacam ini
diputar terus-menerus, barulah ratingnya terus naik.
Rating pun tak selalu dijadikan acuan para media planner memasang iklan. Pada intinya, mereka menempatkan iklan
di program televisi yang sekiranya efektif mengenai target pasar produk yang
diiklankan. Karena itulah slot iklan Film Seri X-Files tak pernah sepi. Serial ini, walaupun ratingnya tak tinggi,
namun penontonnya cukup homogen sebagai sasaran produk tertentu.
Hampir separuh masyarakat kita –49% tepatnya, menurut data Bank Dunia–mempunyai
daya beli di bawah US$ 2 per hari. Dengan kemampuan seperti ini, besar
kemungkinan mereka menelan apa saja yang ditayangkan televisi, apalagi jika tak
ada pilihan. Tapi, kalau kita mau bersusah payah sedikit, menayangkan program
yang mendidik, masyarakat yang separuh itu akan berkembang. Termasuk juga tingkat
konsumsinya. Artinya, dalam jangka panjang, mereka juga akan menjadi pasar yang
menjanjikan bagi industri televisi. Suatu investasi yang seharusnya kita mulai
dari sekarang.
RATING, sistem pemeringkatan program yang belum ada bandingannya ini, diterima
pekerja televisi dengan rasa ambigu. Saat angkanya rendah, ia dihujat.
Sebaliknya, saat rangking program menanjak, kita tak hendak menggugat. Ambiguitas
kadang menimbulkan guilty pleasure
yang tiada tara.
Tapi, sudahlah, tak perlu terlalu keras mengkritik diri sendiri. Sebab
manusia memang kerap lupa. Setelah Smackdown
diturunkan oleh Lativi tanpa pembelaan sedikit pun, kita lupa, masih banyak tayangan
kekerasan di layar kita. Kita lupa, dulunya sering menampilkan gambar mayat
berdarah-darah dan orang mati gantung diri. Kita lupa, masih memunculkan visual
vulgar orang berpukul-pukulan di awal berita. Kita membuat talkshow membicarakan berakhirnya Smackdown dan lupa tangan kita pun berlumur darah. Kita juga lupa,
kita bisa menjadikan rating sebagai dalih membuat program sesat atau bisa juga
tidak. Lalu, apa lagi yang akan saya bicarakan? Ah, saya sudah lupa....