dria soetomo
Female
Indonesia

<< December 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31























































































































































































































































































If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, December 11, 2006
LIFE

Cerita dari Pinggir Kota

 

SAYA pernah pergi ke tempat di mana kewarasan dan kegilaan berbaur di bawah satu atap. Rumah itu berbau seperti tahi ayam. Baunya sudah menusuk begitu pagar pintu rumah dibuka.

 

Di rumah ini, tinggal seorang Engkong berumur lebih dari 90 tahun. Ia memiliki cinta yang besar, yang mampu menampung 200 orang gila di rumahnya. Orang-orang gila ini berasal dari trotoar kota atau dari keluarga-keluarga yang tak mampu membayar jasa rumah sakit jiwa.

 

Tempat perawatan bagi mereka terpisah dari rumah utama, tempat Engkong tinggal bersama keluarga besarnya. Kami diajak untuk melihat-lihat orang gila yang mereka rawat. Ada seorang gadis belasan tahun, kurus, korengan dengan rambut nyaris botak tak beraturan seperti digunduli paksa. Gaun pendeknya tak terkancing di bagian punggung. Ia menangis histeris saat hendak diperlihatkan kepada para tamu. Mati-matian menolak karena tak memakai celana dalam. Ora kathokan! Ora kathokan!

 

Engkong dibantu oleh sepasang saudara kembar untuk mengurus pasien-pasiennya. Sebut saja, Rono dan Mono. Mereka berdua hafal semua nama pasien yang jumlahnya 200 orang itu. Rono bercerita, ia tinggal di rumah Engkong sejak kecil karena ibunya ditolong oleh Engkong. Untuk membalas budi, mereka berdua bekerja di sini sejak tahun 1985, sepuluh tahun sejak Engkong pertama kali mengobati orang gila.

 

Merawat orang gila harus sabar, katanya. Saya sudah pernah dimaki, dipukul, digigit, ditendang, diludahin dan dibanting sama orang gila. Dulu, jumlah orang gila di sini cuma 75 orang. Tapi, mereka ganas-ganas. Rantai digigit sampai putus, ayam lewat, diperkosa. Begitu denger geledek, lari sekenceng-kencengnya ke kuburan sambil bawa-bawa bantal.

 

Cara Rono dan Mono mendidik pasien-pasien Engkong mirip betul dengan acara orientasi mahasiswa baru. Setiap lewat subuh, ada senam pagi, dilanjutkan dengan bersih-bersih. Setelah itu baru mandi. Beberapa pasien harus dimandikan oleh Rono dan Mono. Setiap waktu berselang, mereka yang tak mampu mandi, harus pula dirawat dengan dipotong kuku dan rambutnya, disuapi serta dibersihkan kotorannya. Sore-sore, mereka dikumpulkan lagi untuk bernyanyi dan berdoa. Lengkap karena ditambahi sedikit bentakan. Untuk hiburan, ada acara kuis. Hadiahnya cukup menarik; sebatang rokok. Pertanyaannya pun cukup mudah.

 

Siapa presiden pertama RI?

Soekarnoooo!!!

Yak, betul!

 

Selain acara rutin untuk mengajar mereka berdisiplin, Engkong punya ramuan khusus menyembuhkan orang gila. Asli menggunakan tanam-tanaman. Tapi, itu resep rahasia. Tak ada yang tahu kecuali dirinya. Ramuan khusus ini manjur berkat doa, pijat dan tiupan ke ubun-ubun. Engkong, konon mempunyai ilmu lebih. Ia juga menerima orang yang jadi gila karena jin dan kesaktian.

 

Sebagian orang menganggap, inilah rahasia mengapa Engkong keliatan dua puluh tahun lebih muda dari usianya yang lebih 90 itu. Ia masih sanggup berjalan 3 km di siang bolong untuk berpawai 17 Agustus-an bersama para pasiennya.

 

Tak semua pasien tentunya, dapat diajak berkarnaval dan jalan-jalan. Ada perempuan yang dikunci di dalam kamar karena tak pernah mau mengenakan baju. Padahal, umurnya baru 21 tahun dan sedang mengandung. Ia jadi gila karena perlakuan suaminya. Setiap hari, ia harus disuapi petugas laki-laki untuk makan. Memilukan, karena petugas masih juga membentak-bentak.

 

Tidak semua yang ada di sini gila. Yang paling muda, bocah laki-laki berumur sekitar 13 tahun. Ia punya kelainan syaraf dan terlantar belaka. Yang gila pun, tak semuanya tampak kurang waras. Ada mas-mas tukang insinyur yang gagah, eks pegawai BPK yang dituduh korupsi, hingga lulusan Pesantren Gontor. Banyak lagi yang kondisinya kumal dan menyedihkan. Kalau Engkong sedang berjalan-jalan dengan mobilnya, ia masih suka mengangkut setiap orang gila yang tertangkap pandangan mata. Semuanya ia bawa pulang.

 

Ciri orang yang penyakitnya sudah parah, kata Engkong, kalau dia sudah makan kotorannya sendiri. Yang begitu susah disembuhkannya.

Yang paling susah ngajarin mereka kebersihan. Udah dimandiin dan dikasih pakaian baru, malah ganti lagi sama baju yang lama. Kalau dikasih roti juga begitu. Kalau rotinya diparuh dua, satu kita berikan ke pasien, satunya lagi kita buang, roti yang dibuang ini yang dimakan sama dia. Sedang roti yang bersih cuma digenggam aja.

 

Fasilitas di tempat ini tak dapat dikatakan baik. Kamarnya lembab dan bau, campuran bau keringat yang tak pernah kering dan bau pakaian yang berhari-hari direndam. Walaupun baunya menusuk, saya mencoba masuk ke dalam kamar. Tapi, langkah saya terhenti karena penghuni yang meringkuk di pojok tiba-tiba menyemburkan ludah bercampur dahak yang tepat jatuh di ujung sepatu.

 

Kasurnya hitam dan keropos. Entah, kutu dan kuman macam apa yang betah mendekam di situ. Inilah tempat terbaik bagi manusia kurang beruntung. Walaupun daya tampungnya sudah kelewat batas, Engkong tak mampu menolak orang-orang gila hasil razia polisi dan dinas sosial yang dibawa ke rumahnya.

 

Wilayah antara pasien dan rumah Engkong dibatasi pagar dari kayu dan bambu. Pasien berada di dalam pagar ini. Pada jam makan siang mereka boleh keluar untuk mengambil makan. Porsi makan ditentukan sendiri oleh masing-masing pasien. Tiga piring pun boleh asalkan sanggup. Lauk-pauknya kelihatan lumayan. Beberapa pasien yang suka melarikan diri, diikat kakinya menggunakan rantai.

 

Cerita Mono, kalo pasien lari, kita yang repot nyarinya. Khawatir ada apa-apa. Jangan-jangan malah dipukulin orang kampung.

 

Saya berbicara dengan orang-orang yang berada di luar pagar. Ia keliatan waras. Tak disangka, beberapa saat kemudian, ia masih harus dirantai. Bekas pecandu narkoba, kata Mono, masih suka kabur.

 

Satu lagi yang mengajak saya bicara, orang berbadan tinggi besar dengan gumam yang tak jelas. Temannya bilang, orang itu dulu suka memakan bangkai manusia. Mungkin keterangan itu benar, karena yang ditunjuk, masih dengan gumam tak jelas, sedang menunjukkan kepada saya cara ia membuka tali pocong.

 

Dia, tunjuk Mono kemudian, dulunya hiperseks. Adiknya sendiri diperkosa. Setelah keluar dari penjara, oleh polisi dibawa kemari. Baru sebentar di sini, dia sudah ngeraba-raba tetek pasien lain. Sekarang sih sudah sembuh. Gak doyan perempuan sama sekali. Sekarang jadi satpam di sini.

 

Tak semua mantan orang gila diterima kembali oleh keluarga mereka. Yang terbuang, diterima kembali di rumah ini sebagai karyawan. Lama kesembuhan mereka bervariasi. Ada yang waras dalam hitungan hari, tapi, ada juga yang tak berubah kondisinya walaupun sudah berbulan-bulan. Panti sosial swadaya ini punya kriteria sendiri dalam menentukan sembuh tidaknya seorang pasien.

 

Kriteria sembuh mungkin bisa berbeda-beda. Kriteria dokter beda, kriteria psikolog beda, kriteria psikiater juga beda. Kalau buat saya sih, asalkan si pasien ini sudah tahu malu, kata-kata dan perbuatannya sudah benar, berarti dia sudah sembuh, terang Rono.

 

Ada orang luar yang berbisik sumir, kadang-kadang pasien di situ dipake sama yang jaga. Mungkin benar. Bisa jadi tidak.

 

Sebelum saya pulang, Mono sempat berkata, sampe sekarang, saya gak tau kenapa Tuhan menciptakan penyakit seperti ini.


Posted at 01:51 pm by dria soetomo

Name: ade h
August 21, 2007   10:21 PM PDT
 
CERITA PINGGIR KOTA/ CERITA OR GILA ITU . AD DI DAERAH MANA Saya minta alamatnya ?, ATAU SMS no tempat tsb k 08159821417, terimakasih banyak sebelum dan sesudahnya .bg yang tahu tolong sms k sini. semoga bermanfa'at untuk yang lain juga
Name: ade h
August 21, 2007   10:20 PM PDT
 
CERITA PINGGIR KOTA/ CERITA OR GILA ITU . AD DI DAERAH MANA Saya minta alamatnya ?, ATAU SMS no tempat tsb k 08159821417, terimakasih banyak sebelum dan sesudahnya .bg yang tahu tolong sms k sini. semoga bermanfa'at untuk yang lain juga
die4pleasure
July 31, 2007   12:25 AM PDT
 
lagi jalan2, eh ketemu blog bagus.salam kenal ya mbak.btw ini true story yah?dmana ya kalo bole tau?thx
dria
January 23, 2007   02:47 PM PST
 
terima kasih, aria. salam kenal juga!
aria
January 19, 2007   10:38 PM PST
 
dria, saya seneng nonton "today on o" lho, sekarang ketambahan: seneng baca blogmu. cepet nulis lagi dong. deskripsimu dalam tulisan sama seperti gaya bicaramu di tv: tenang dan bening--dan matang. nulis kolom di media cetak nggak? nulis di mana aja? tolong dijawab. nb: salam kenal!
eca
January 11, 2007   08:44 PM PST
 
d tunggu tulisan2 berikutnya...
fjoenoes
December 29, 2006   11:02 PM PST
 
that's what i called descriptive, cool...! Ever thinking iseng2 bikin novel?
jen
December 25, 2006   05:12 PM PST
 
eh dmana si engkong itu tinggal??? menur??? hehehehe...
Burung
December 11, 2006   10:26 PM PST
 
gw sepakat: salah satu yang membedakan antara orang waras dan orang gila adalah punya rasa malu itu.

susah jadinya, ternyata lingkungan sekitar kita ini gak beda2 amat dibandingin dengan keadaan di dalam panti itu. mereka malah lebih terorganisir, sedangkan orang2 di luar pada gila asal2an.. hihi..

dan gw jadi takut, jangan2 tar gw digerebek pasukan si engkong itu pas lagi klayapan di jalan... semoga mereka nggak ngeliat kesehatan mental orang dari penampilannya doang yah :(
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry