dria soetomo
Female
Indonesia

<< December 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31























































































































































































































































































If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, December 29, 2005
BETWEEN GOD, MOSES AND PHARAOH

TUHAN MAHA PARADOKSAL

 

KAPANKAH pertama kali kita mendengar kisah Musa dan Firaun?

Saya tak ingat jelas. Waktu itu saya masih SD. Guru agama yang menuturkan ceritanya di muka kelas.

 

Dengan gaya piawai ia berkisah, Musa berusaha meyakinkan Firaun untuk mempercayai Tuhannya. Segala argumen ataupun sihir penyihir Firaun berhasil dikalahkan Musa. Namun, Raja Mesir tak juga percaya. Ia bahkan mengejar Musa bersama pengikutnya lari menyeberangi Laut Merah yang terbelah. Dengan kereta kuda, ratusan pengawal raja siap menerkam dari belakang. Tetapi, setelah Sang Nabi sampai ke ujung, Tuhan lalu menutup kembali laut yang menganga. Firaun bersama prajuritnya tewas tertimpa gelombang. Binasa di dasar laut. Mati mengenaskan.

 

Seketika, kening saya berkerut.

Bagaimana mungkin? Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Bukankah Ia bukan sekedar penyayang, tetapi MAHA? Mengapa ia tega menenggelamkan ratusan orang, hanya karena mereka bukan jenis yang mudah percaya? Bagaimana tega?

 

Saya tak menemukan jawaban. Cerita pertama tentang paradoksal Tuhan saya bawa hingga dewasa.

 

 *****

 

DEFINISI Ketuhanan diajukan manusia berulang-ulang sejak kita memutuskan untuk mempercayai keberadaan The Supreme Being. Tentu saja, jauh lebih mudah meyakini Tuhan sebagai Maha Pemelihara. Mungkin karena itu pula, sejak kecil, anak diajari untuk melihat Tuhan sebagai Maha Penyayang, Maha Pemberi. Kita tak hendak mengatakan Tuhan sebagai Maha Buas dan Penyiksa. Tapi, jika kita kembali kepada konsep awal Tuhan sebagai The Supreme Being, siapakah kita yang hendak membatasi ke-Maha-an Tuhan sebatas Pengasih dan Penyayang?

 

 *****

 

KISAH Musa versus Firaun telah dituturkan selama lebih dari 3.000 tahun. Setelah mendengar cerita itu, baru sekitar 15 tahun kemudian saya tahu versi lainnya. Versi-versi yang didasarkan pada temuan-temuan ilmiah.

 

Musa diperkirakan hidup pada masa Ramses II, Firaun paling hebat dan paling awet hidupnya. Umurnya mencapai 90 tahun. Ramses II terkenal sebagai pembangun kuil-kuil terbesar Mesir dan panglima perang yang berhasil memperluas pengaruhnya. Ia juga Firaun yang memiliki jumlah anak paling banyak, 125. Permaisurinya, Nefertari, disebut sebagai perempuan dengan kecantikan tanpa banding.

 

Namun, sebagian ahli bilang, bukan Ramses II yang tenggelam di Laut Merah. Pasukan Mesir yang mengejar Musa dipimpin oleh Amon-her-khepeshef, putra sulung Firaun yang saat itu menjabat sebagai jenderal militer. Calon Ramses III inilah yang dikalahkan Musa beserta pengikutnya. Ia tewas dengan luka di kepala.

 

Kejadian ini terjadi bukan di Laut Merah (Red Sea), melainkan di Reed Sea, kawasan rawa-rawa yang dilewati Musa dalam pelariannya.

 

Diduga pula, pelarian Musa lebih berkait dengan soal politik. Istana Firaun didiami puluhan selir dan anak. Sebagai salah satu Pangeran Mesir, Musa bersaing dengan Amon-her-khepeshef.

 

TEORI lain juga tak kalah menarik. Ahli sejarah mengira, Musa adalah Firaun itu sendiri. Ia adalah Akhenaten, Raja Mesir yang terkenal karena meninggalkan Dewa-Dewa dan memilih seorang Tuhan saja. Akhenaten memerintah puluhan tahun sebelum Ramses II. Ia menikah dengan saudaranya lain ibu, Nefertiti, perempuan paling cantik di dunia.

 

Akhenaten menutup semua kuil lama Mesir dan membangun kuilnya sendiri. Kebijakan ini membuatnya tidak populer di kalangan para pendeta tradisional. Akhenaten terpaksa turun takhta. Bersama para pengikutnya, ia mengasingkan diri, pergi melewati daerah rawa-rawa. Walaupun tersingkir, beberapa ajaran Akhenaten, konon masih bersisa pada agama masa sekarang.

 

Tiga milenium kemudian, dongeng cinta Musa dan Nefertiti siap dijadikan film. Syutingnya sudah dimulai sebelum terompet pesta tahun baru 2006 ditiup.

  

*****

 

HIPOTESIS berdasarkan fakta ilmiah memberikan 'justifikasi' terhadap 'kekejaman' Tuhan. Tapi, dunia tetap mengajarkan paradoks pada saya. Di antara nama-nama mulia Tuhan, disebut Ia sebagai Maha Penyiksa. Mungkin maksudnya, hanya Ia yang berhak mengazab manusia pendosa. Ia tetap paradoksal. Sayangnya, tak ada yang menceritakan itu 15 tahun yang lalu.

 

 


Posted at 12:52 pm by dria soetomo

Dino
August 12, 2008   03:18 PM PDT
 
Very nice...

*lanjutin baca.... ^^;
Arief
January 28, 2008   01:34 AM PST
 
God is Almighty.
It's said that He was as close as our veins attach to our body and He was that close enough to be able to measurred our capacity and ability. Anything could happen if we ask Him. Just ask.
But God always take a priors to defend ones who was in pain and suffers, and it's represented by Mosses. At least, that was i supposed to happen. No matter the story was true or false (or, historical based prove, like you've did).
So, there's no reason for God to saved one who didn't trust and belive Him in kind of Mosses did to Him. It's not a paradox, it's just a matter of believe.
Do we believe that our God is close? Do we belive, we have choose the right path that God order us to?
'Coz if we do, He will come as He answer Mosses, centuries ago.
Right?
byg
December 12, 2007   12:33 AM PST
 
+ tuhan bisa maen basket ga?
- pasti bisa
+ elo bisa maen basket ga?
- ga bisa
+ berarti lo bukan tuhan

ah...sederhana saja. bagi saya tuhan pasti bisa segalanya. walaupun saya tidak pernah melihatnya main basket.
sipandu
February 8, 2007   11:09 AM PST
 
numpang komen ya! br kenal ma mba dria... baca blognya bagusss...

cuman mau komen sama komenter (?) sebelum saya...

kalau memang kita tidak boleh bertanya... knapa kita mampu bertanya? bila kita tak boleh berpikir... kenapa tuhan membiarkan kita berpikir?

jika memang tuhan tidak mau kita bertanya dan berpikir... kenapa tuhan tidak menurunkan malaikat saja ke bumi yang sudah pasti taat sama tuhan? even malaikat saja bertanya kepada Allah (refer to cerita penciptaan adam di alquran).

why are we here? (the ultimate question according to 'HEROES' the TV series ;p)

ini paradoks bukan ya??

mba dria mungkin tertarik baca bukunya jeffrey lang "Losing My Religion: A Call for Help"... persi indonya sih ada di gramedia dengan judul "aku beriman maka aku bertanya"...

semoga kau temukan apa yang kau cari... gudlak :)
hs
December 31, 2006   01:44 PM PST
 
tulisan anda cukup bagus, jelas dan terang. menggambarkan anda orang kurang beriman. terus saja berpikir tentang tuhan dengan akal anda yang dangkal dan terbatas. hingga jika sudah sampai saatnya anda akan menjadi gila karena akal anda dicabut sebelum nyawa anda. saya ingatkan smua saudara, jangan pernah meremehkan tuhan, menyelidiki apalagi mencaci maki.
empunya blog
December 8, 2006   03:45 PM PST
 
terima kasih pada semua yang telah meninggalkan komentar di sini. maaf, saya jarang menulis.
untuk saltwarehouse, saya belum lagi paruh baya dan selalu punya pacar. apa tulisan-tulisan ini keliatan sangat putus asa? :)
jen
December 2, 2006   01:33 PM PST
 

Beruntung sekali orang yang dikaruniai kemampuan berfikir tentang tuhan. Pun menggugat kemapanan tuhan. Karena sedikit saja orang yang care, bagaimana memposisikan tuhan dalam hidup&#8230;

Dalam terminologi agama orang-orang seperti itu, sering disebut sebagai ulul albab (orang yang dikaruniai kecerdasan dan keotentikan berfikir). Dari pertanyaan-pertanyaan: lahirlah karsa dan karya. Kata aristoteles, sebelum sesuatu menjadi berbentuk ia ada di isi kepala.

Kamu beruntung masih bisa gelisah tentang tuhan. Apalagi membangun reasoning tuhan dengan sebutan &#8220;maha paradoksal&#8221;. Berani, nekat dan ganas hehehehe&#8230;&#8230;Apalagi masih mengingat kegelisahan itu terjadi pada 15 tahun lalu&#8230;&#8230;

Jadi cemburu de... Aku yang lahir di kampung --- dengan tradisi Islam klasik dan konservatif-- bahkan tidak sempat, yang secara ekstrim diharamkan untuk gelisah tentang tuhan. Terbangun di sebuah lingkungan, dengan perspektif bahwa tuhan selalu pada posisi harus dipahami, dimengerti, dan dilayani.

Jadi kayak cewek yang sedang terkena cinderella syndrum getohhh&#8230;.(yang hobinya minta: ke J-Co Donnut yuk, ke Izzi Pizza yukkkk, dan tentu tidak mau sekadar diajak berdamai dengan kedukaan hihihihiihihi&#8230;&#8230;.)))))

Tuhan itu baik dan selalu baik. Karena itu pada posisi apapun, manusia selalu harus &#8220;mengalah&#8221;. Tidak boleh protes, apalagi sedikit meragukan. Otak kritis kita, harus rela dipersembahkan untuk dikunyah-kunyah oleh kelam sejarah yang dibangun oleh orang-orang egois.

Untungnya, kamu tidak hidup di zaman fir&#8217;aun. Kalau hidup di zaman itu, mungkin kamu sudah tenggelam di laut Merah bersama Fir&#8217;aun. Karena sedikit meragukan kemapanan tuhan. Yah, paling apes akan di-ewer-ewer sama FPI&#8230; hick3&#8230;.

Menurutku, perspektif bagaimana memahami tuhan, terkadang kita mesti berdamai dengan hati. Bukan hanya dengan rasionalitas, tapi dengan CINTA&#8230;--bagi yang percaya dengan cinta---. Tapi kalau memang cinta telah basi dan garing kriuk-kriukkk&#8230;. ya udah capek deeee&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;

Misalnya yang sedikit melegakan, meminjam bahasa yang sering dipakai oleh kiai-kiai kampung itu : &#8220;man &#8216;arafa rabbahu faqad &#8216;arafa nafsahu&#8221; (orang yang mengetahui tuhanya, adalah orang yang mengetahui dirinya). Karena sebelum dilahirkan, konon ruh sudah ada perjanjian sama tuhan untuk ikrar akan percaya dan taat selama menempel di jasad.

Dan kita harus membiarkan tuhan membantai ciptannya didepan kita. Kita terkadang harus membiarkan tuhan mengubur hidup-hidup saudara-saudara kita yang juga ciptaannya. Kita juga terkadang harus membiarkan tuhan memamerkan keperkasaanya&#8230;&#8230;..


Duh, pingin pulang nih&#8230;. Bosen di kantor&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..





venus
November 18, 2006   09:46 AM PST
 
keren blognya. tulisannya juga detail, berasa baca majalah :D
Name
November 13, 2006   04:03 PM PST
 
Ya kalau dipikir-pikir Tuhan lebih kejam lagi daripada sekedar menyiksa Firaun dan pasukannya lha wong rakyat Aceh yang rajin sembahyang saja musnah ditelan Tsunami (yang notabenenya dikehendaki oleh Tuhan).

Trus rakyat Sidoarjo yang kena lumpur itu apa lebih dosa daripada pejabat-pejabat LAPINDO yang villanya di Puncak atau Malang aman dari marabahaya?

Konon kan Musa sudah berkali -kali berusaha meluluhkan hati Firaun dengan berbagai fenomena nah kelihatannnya episode Firaun itu justru saat-saat Tuhan begitu sabar terhadap penentangan makhluknya.

Mungkin sebaiknya kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa Tuhan memang tidak terlalu Pengasih, sebab kalau mereka kurang gigih mereka bakal sulit cari pekerjaan kecuali kalau cadangan kekayaan nenek moyangnya sudah memungkinkan mereka menjadi selebriti.

Tuhan yang demikianlah yang cocok buat bangsa yang sedang carut marut ini.

Bila Tuhan yang kurang Pengasih bisa memiliki tempat pada kondisi tertentu , maka boleh jadi Tuhan yang Kejam juga cocok buat manusia yang memang kalau gak digebuk suka lalai.

Regards

Mampir minum
anonimus
June 19, 2006   07:22 PM PDT
 
Wah saltwarehouse, Anda salah. Yang nulis cewek 28 tahun yang cakep (walaupun saya juga pengennya dia cewek paruh baya yang sering ditolak banyak cowok hehehe)
Wat... nulis lagi dong...
saltwarehouse
June 17, 2006   11:34 PM PDT
 
Hi, penulis...

Tulisan anda di atas cukup bagus. Tampaknya anda punya pengalaman di bidang jurnalisme dan tulis menulis.

Mengingat anda cukup kritis mempertanyakan dogma agama, saya ingin tahu pendapat anda tentang TAKDIR. Pertanyaannya: Apakah segala sesuatu yang terjadi memang sudah digariskan oleh Tuhan. Kita manusia tinggal menjalankannya saja. Coba buat satu tulisan tersendiri tentang topik takdir ini.

Saya punya teori bagus mengenai Tuhan yang ingin saya bagi dengan anda, tapi sebelumnya saya ingin dengar pendapat anda tentang TAKDIR. OK, saya tunggu ulasannya.

Soal sayembara tebak umur...saya kurang yakin kalau 15 tahun yang lalu anda masih duduk di bangku SD. Saya menduga anda adalah wanita paruh baya, usia antara 40-45 tahun. Belum menikah, tinggal sendiri, tidak punya pacar, dan kurang gizi.

Ini karena dari 3 tulisan anda lainnya di blog ini, saya melihat anda punya keresahan mendalam tentang umur dan proses menjadi tua. Saran saya, anda mestinya lebih memperhatikan penampilan diri termasuk juga kebersihan rumah anda. Sebagai informasi, laki-laki enggan berkencan dengan wanita yang rumahnya banyak kecoak-nya. Apalagi jika wanita tersebut ternyata sangat miskin sehingga harus memakan kecoak untuk bertahan hidup. Dan terhadap semua lelaki yang pernah menolak anda, tolong hilangkan pikiran untuk memakan daging mereka.

saltwarehouse@yahoo.com
IniItu
April 3, 2006   12:28 AM PDT
 
Blognya cuma 4 judul?
si empunya blog sepertinya sibuk :p
berapa usianya?
rata2 kelas 6 sd 12 tahun, jadi skrg usianya tidak lebih dari 27-28 tahun (23~28th).
Sudah dijawab tuh, tinggal menunggu hadiahnya.. :D

Kalau sudah baca/dengar kisah Musa - Firaun, baca juga kisah tentang Musa - Khaidir (atau siapa namanya ya?) , mungkin itu bisa menjelaskan beberapa hal yg kontrakdiktif ditulisan blognya atau di komentarnya.. ;-)
To be continued.. \if requested
kecoak_tengil
March 30, 2006   04:09 PM PST
 
Nambah ah: katanya Tuhan ga akan memberi cobaan melebihi kemampuan umatnya.. Bullshit bgt kan, coba deh ke RSJ atau di.. kita bisa ketemu sama beberapa orang gila.. Apa mereka mampu menahan cobaan itu? Belum lagi orang-orang yang bunuh diri tidak sedikit... apakah mereka mampu menahan cobaan dari Tuhan? jadi sebatas apa sih kemampuan itu?

Mbak Dria... aku pengagum tulisanmu lhooooo...
IniAku
March 30, 2006   08:36 AM PST
 
mampir dulu, nanti kembali lagi dalam beberapa hari...hihi
(Aku suka cara penulisannya yang tajam tapi tenang)
Endah
March 30, 2006   01:13 AM PST
 
Akhirnya ada juga yang mempertanyakan hal yang aneh ini.. Kalo dulu gue sering bertanya2 sama ucapan ustad2.. katanya Tuhan ga akan memberi cobaan melebihi kemampuan umatnya.. Bullshit bgt kan, coba deh ke RSJ atau beberapa jalan raya tertentu.. kita bisa ketemu sama beberapa orang gila.. jadi sebatas apa sih kemampuan itu?

Trus ada lagi kalimat yang bisa menghiasi undangan pernikahan bahwa Tuhan menciptakan hambanya berpasang-pasangan.. pasangan dari mana?
coba bayangkan.. temen gue, masih SMP udah meninggal, belum pernah pacaran... pasangan dia siapa? Masih untung kalo dia ga punya pasangan, coba kalo punya.. pasangannya bakal jadi jomblo seumur hidup soalnya temen gue yang seharusnya jadi pasangannya udah keburu mati duluan.

Trus ada lagi soal kewajiban menyembah Tuhan, kalo ga disembah Tuhan murka.. lah.. Tuhan itu kan udah yang Maha segala-galanya... Mosok iya sejahat itu kaya' pejabat yang butuh penjilat, gak mungkin lah...

Ada lagi sesuatu yang membingungkan gue soal kenapa orang yang rajin ibadah masuk surga sementara orang yang ga kenal Tuhan konon bakal masuk neraka.. padahal menurut gue agama itu cuma manual buat manusia berbuat baik aja, jadi orang baik boleh-boleh aja ga beragama.. Tapi ini cuma pendapat sih...

Coba mana sih yang lebih baik, orang yang berbuat baik karena disuruh Tuhan, atau orang yang berbuat baik karena memang dari hati nurani ingin berbuat baik..

Cheers ;)
Salut banget deh sama mbak Dria.. Seandainya gue bisa menulis sehebat mbak Dria... Ajarin dooong
Alfian
March 20, 2006   12:46 AM PST
 
Hmmm, kalau memang Firaun kejam sama rakyatnya, berarti tuhan gak salah donk dengan membinasakan dia, kan demi untuk membebaskan rakyatnya.

Topicnya berat amat ya. :(

Visit my blog dong
200 (ext)
February 7, 2006   02:01 PM PST
 
Wah, namanya juga Tuhan yang Maha. Memang segala tindak tanduk-Nya tidak akan dapat kita terima dengan akal kita atau bahkan memikirkannya pun kita tak kan mampu.

Bayangkan, di dunia ini ada milyaran mahluk yang hidup dan tidak ada satupun yang sama identik! Bahkan si kembar pun punya sidik jari yang berbeda, hehehe...

Sejarah atau penelitian apapun sayangnya hanyalah asumsi-asumsi yang dibangun dengan keterbatasan manusia. Sama seperti saat kita menerima kenyataan bahwa suatu hari kita akan mati dan memunculkan pertanyaan "setelah mati kita kemana?". Padahal kita hidup pun sudah lupa bahwa sebelum hidup kita yang saat ini apakah kita pernah "hidup".

Sayangnya wilayah ketuhanan ini sangat sulit dapat dibuktikan dengan logika-logika manusia yang sangat terbatas, apalagi kapasitas berfikir kita tidak mampu menggunakan 100% kapasitas otak yang kita punya.

Pada akhirnya bukanlah keberadaan yang nyata yang menjadi penting, tetapi meyakini sesuatu yang tidak dapat dibuktikan saat ini lah yang luar biasa. Karena manusia hidup dengan batasan-batasan dan nilai-nilai yang diciptakan untuk kemudahan dan kesenangannya sendiri:)

Selamat bereksplorasi, hidup ini sangat indah untuk disia-siakan dengan hal-hal yang remeh temeh. Kejar dan bongkar semua...hidup Iwan Fals...
empunya blog
February 3, 2006   04:44 PM PST
 
siapa yang dapat menjawab pertanyaan di bawah ini akan mendapat hadiah cium...
peneduhhati.blogspot.com
February 2, 2006   10:53 PM PST
 
aih... tulisan yang menarik. pemaparan fakta dan logika yang disampaikan asyikk.. cuma, saya orang yang masih konvensional. tidak mempertanyakan mengapa Tuhan berbuat apa dan sebagainya.

aku memilih bertanya aja deh ama pembaca blog yang lain.. Setelah anda membaca blog ini dan mengetahui bahwa empunya blog mendengar cerita musa ketika sd dan mendapat jawaban ilmiah 15 tahun kemudian, berapa usia pemilik blog ini? :p

salam,

2A
BuRuNG
February 2, 2006   09:50 PM PST
 
akhirnya.. masuk ke wilayah yang gw suka!
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry