Alam, Tsunami, dan Cara
Memperpanjang Umur
PASCA tsunami 24 Desember 2004, saya duduk di salon sebelah, mendengarkan
siaran radio yang diputar keras-keras.
“Bencana ini pasti
hukuman dari Tuhan. Kita harus banyak introspeksi diri dan lebih mendekatkan diri
pada-Nya,” kata seorang ibu yang menelpon ke stasiun radio itu.
Tak lama, seorang partisipan
lain menyanggah, “Tuhan itu Maha Pengasih. Dia tidak mungkin menghukum
hamba-Nya sedemikian kejam. Tuhan tidak kejam.”
Seusai gelombang
tsunami surut, pertanyaan tentang kuasa Tuhan menggelora. Ada pelajaran yang
tak mudah dicerna manusia, yaitu alam yang tak punya kepedulian. Manusia dengan
otaknya selalu bertanya “mengapa?”, “apa maksudnya?”. Kita terbiasa hidup
dengan melihat adanya tujuan.
Tapi alam tak punya maksud.
Alam tak kejam, tapi ia juga tak punya kasih sayang. Ia ada tanpa rasa.
Hanya ada satu yang
menjadi kepedulian alam: penerusan DNA dari leluhur ke generasi berikutnya. Karena
itu, alam tak berbelas kasih pada laba-laba jantan yang dimakan betinanya
seusai kawin. Betina yang kenyang akan membuahkan telur yang baik. Salmon
bertelur sebanyak-banyaknya sebelum mati kelelahan. Capung dan kumbang limbah
bertelur dan jatuh mati. Spesies lain hanya berumur sampai ia melahirkan
penerus.
Setiap saat, termasuk
ketika saya sedang duduk creambath di
salon, jutaan binatang sedang berlari ketakutan dikejar predatornya. Sebagian
mati ketakutan, sebagian lain mati kesakitan diremukkan tulang-tulangnya. Ada
yang kesakitan terkena bisa beracun, sedangkan lainnya kesakitan digigiti gigi
yang tajam-tajam. Alam tak memberinya anestesi alami atau cara lain yang lebih
mudah. Alam tak peduli. Ia tak kejam, tapi juga tak baik hati. Sebagian makhluk
lain dimakan parasitnya hidup-hidup dari dalam tubuh.
Maka, ketika lempeng
bumi patah dan air laut yang terkocok membunuh 100 ribu manusia di ujung
Sumatera dan Semenanjung India, alam tetap tak punya rasa. Ia tak tahu dan tak
ambil pusing. Alam hanya mengunggulkan individu-individu yang mewariskan gennya
dengan cara yang paling efisien. Individu-individu yang rela bereproduksi
sampai mati.
Cara Memperpanjang Umur
KITA
berpacu menghadapi alam. Berpacu menghadapi peristiwa wajar yang membuat kita
jeri. Peristiwa yang lalu kita sebut sebagai bencana. Tapi manusia tak merasa
cukup. Kita juga berjuang melawan usia. Hanya saja, alam tetap masa bodoh.
Karena kita sudah tahu
satu-satunya kepedulian alam hanyalah proses penerusan bibit unggul, maka, demi
memperpanjang usia, kita dapat melakukan beberapa hal untuk mengelabui alam. Seorang
peneliti berhasil memperpanjang usia seekor tikus dengan cara menunda proses
reproduksi tikus tersebut.
Dengan kata lain,
jika kita misalnya, dapat menunda proses pematangan organ-organ reproduksi dari
usia 12 tahun menjadi 42 tahun, kesempatan hidup kita bisa dibilang akan lebih
panjang. Konsekuensinya, kita juga akan menunda seks, mengingat manusia baru
akan akil baliq di umur 40-an. Relakah manusia? Saya yakin akan banyak orang
menjawab “ya”.
Alam punya proses
seleksi yang efisien. Ia tak akan memberi nilai pada umur manusia yang panjang
tapi pelit pada proses penerusan gen. Nah, ini cara kedua. Tanpa menunda proses
akil baliq, jika manusia bisa menunjukkan pada alam, semakin tua manusia,
semakin ia akan mewariskan DNA yang lebih unggul, alam mungkin akan memihak
kita.
Bagaimana cara
melakukan itu? Biar para ilmuwan mencobanya sampai dapat. Kulit saya sensitif.
Pijatan ringan kapster pun dapat memecah pembuluh darah di bawah kulit dan
membuat badan saya biru-biru. Sekarang lebih baik saya berpikir, apakah creambath membuat saya makin sehat atau
makin pusing.