dria soetomo
Female
Indonesia

<< October 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31























































































































































































































































































If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, October 12, 2005
MEAT FOR YOUR NEED

DAGING MANUSIA
Bikin Kenyang Plus Mumpuni


KISAH Sumanto yang menggali kubur dan menyantap daging manusia sempat menimbulkan kehebohan dan membuat pendengarnya bergidik. Kanibalisme memang bukan ritual yang dianggap etis oleh spesies manusia modern. Padahal, dahulu nenek moyang kita memang pernah dibumbui dan dihidangkan di meja makan. Alasannya bermacam-macam, dari kekurangan makanan, peperangan, hingga kegemaran akan rasanya.


SATU fakta yang tak banyak diketahui orang mengenai topik kanibalisme adalah perdebatan panjang di kalangan para ilmuwan mengenai keberadaan kanibalisme itu sendiri. Kanibalisme -atau istilah kerennya anthropopagy- didefinisikan sebagai tindakan memakan daging manusia oleh manusia lain. Tak ada seorang ilmuwan pun yang dilaporkan telah menyaksikan praktek kanibalisme dan tak satu pun kultur yang mengakui adanya praktik tersebut. Ethnolog Amerika Serikat, Williams Arens bahkan terang-terangan menolak keberadaan kanibalisme dalam bukunya, Man-eating Myth, yang dipublikasikan tahun 1979.

Ada yang menyebutkan, perbuatan memakan spesies sendiri hanya dilakukan oleh hewan semacam belalang sembah, dan laba-laba janda hitam, di mana sang betina memangsa pasangannya setelah perkawinan. Atau hewan-hewan seperti serigala, kepiting, singa, semut, ikan dan simpanse super agresif yang memangsa sesamanya.

Awal perdebatan mengenai kanibalisme dimulai pada abad 19 ketika seorang ilmuwan bernama P. Gortanovic menemukan dan menyelidiki tulang-tulang peninggalan Neandertal yang terpendam di gua Krapina, Kroasia tahun 1899-1905. Bertahun-tahun kemudian tulang-tulang tersebut diteliti ulang oleh arkeozoolog bernama Marylène Pathou-Mathis. Pathou-Mathis meneliti lebih dari 2.000 fosil, sebagian di antaranya merupakan tulang manusia. Hasilnya, ia mendapati retakan memanjang pada tulang paha dan tulang kering di lebih dari 50 dari 650 tulang manusia yang ditelitinya. Retakan itu serupa dengan retakan yang terdapat pada tulang bison, badak, rusa, dan hewan-hewan liar lain yang merupakan konsumsi pada masa paleolitikum. Bentuk retakannya mirip dengan bentuk retakan yang kita buat jika kita ingin mendapatkan sumsum lebih banyak.

Dugaan adanya praktik kanibalisme ditemukan pula di situs Neandertal yang lain, yang dikenal sebagai Moula-Gercy, di gua kapur di sepanjang Sungai Rhone di selatan Prancis. Di tempat ini ditemukan tulang 6 manusia yang diduga korban praktik kanibalisme Neandertal. Dari gigi dan rahangnya, diperkirakan para korban terdiri dari 2 orang dewasa, 2 remaja berumur 15 atau 16 tahun, dan 2 anak-anak berumur 5 atau 6 tahun. Tulang-tulang itu bercampur dengan tulang-tulang hewan yang tersebar di seluruh gua, dengan perlakuan dan goresan-goresan yang sama.

Dengan adanya fakta-fakta tersebut, para ahli menyusun beberapa teori. Jean-Jacques Hublin, paleontolog dan spesialis Neandertal memperkirakan, kerusakan yang terjadi pada tulang-tulang tersebut disebabkan oleh hewan karnivora, bebatuan, dan perlakuan yang kurang baik karena Neandertal belum mempunyai ritual penguburan. Namun, teori itu dibantah banyak arkeolog lain. Dengan volume otak yang tak jauh berbeda dengan volume otak manusia modern, Neandertal diduga telah mampu menyusun ritual pemakaman. Di beberapa gua didapati Neandertal yang dimakamkan dengan hati-hati dalam posisi tidur, kepala menghadap ke barat dan kaki menghadap ke timur. Beberapa di antaranya bahkan dikuburkan bersama-sama agar tak terpisahkan oleh maut.

Marylène Pathou-Mathis sendiri memiliki hipotesis lain. Melihat perbandingan jumlah tulang manusia yang jauh lebih sedikit daripada jumlah tulang hewan yang ditemukan, Neandertal sebenarnya tidak mengkonsumsi daging manusia. Tetapi, karena adanya wabah kelaparan, maka terpaksa mereka menyantap daging dari spesies sendiri. Teori ini pun diragukan kebenarannya, mengingat di seluruh gua tulang-tulang hewan berserakan banyak sekali.

Dari perlakuan terhadap tulang-tulang tersebut, belum dapat diambil kesimpulan bahwa daging manusia merupakan hidangan yang umum disajikan. Lalu, mengapa Neandertal memakamkan sesamanya dan menyantap yang lain? Sebagian ahli menyebut, Neandertal sama seperti manusia modern di berbagai belahan bumi yang memiliki perbedaan tingkah laku sosial. Namun, bisa jadi sebagian leluhur kita memang menggemari daging manusia.

Dan, Neandertal bukanlah satu-satunya pelaku kanibalisme. Pada tahun 1984 ditemukan 13 lubang di Baume Fontbrégoua di Provence, Prancis. Sepuluh di antaranya berisi tulang-tulang babi hutan dan domba. Sedangkan tiga lainnya berisi puluhan tulang-tulang manusia muda berukuran kecil, lagi-lagi dengan retakan yang sama seperti tulang hewan. Tulang-tulang berumur 6.000 tahun itu merupakan peninggalan Homo sapiens sapiens, yang diperkirakan menghidangkan balita sebagai santapan.

Tetapi, kanibalisme tidak hanya dilakukan karena alasan doyan. Dalam praktiknya, kanibalisme berkembang menjadi perburuan kepala. Di gua dekat Peking, arkeolog menemukan 8 peti tengkorak peninggalan Homo erectus. Tengkorak-tengkorak tersebut dipotong secara metodis, kulit kepala dikelupas, lidah dan otot wajah dicabut. Belum diketahui pasti fungsinya, apakah digunakan sebagai objek ritual seperti halnya Suku Aztec atau sebagai tropi seperti tengkorak yang diletakkan di ujung lembing prajurit Dayak.

Paleontolog cenderung memperkirakan, kanibalisme dilakukan dalam peperangan untuk membangkitkan semangat juang pasukan atau untuk mengambil kekuatan dari orang yang bersangkutan. Jadi, bukan hanya Sumanto di Indonesia yang makan daging orang supaya bertambah sakti.

Christy G. Turner, arkeolog Amerika menambahkan, praktik kanibalisme dilakukan untuk melindungi suku dan daerah kekuasaan. Tindakan ini diambil dalam upaya menakuti lawan agar membatalkan penyerangan.

SUKU-SUKU KANIBAL

KANIBALISME diduga telah menyebar pada masyarakat primitif di seluruh dunia, di antaranya Afrika Tengah dan Barat, Melanesia (termasuk Indonesia), Polynesia, Suku-suku Indian di Amerika Utara dan Selatan, Suku Aborigin di Australia, dan Suku Maori di Selandia Baru.

Pada tahun 1492 Christoprus Colombus menemukan kepulauan Karibia. Dan penduduk aslinya yang setengah telanjang ternyata adalah kanibal! Bagi bangsa Eropa waktu itu, kanibal merupakan makhluk yang sangat berbahaya. Inilah asal-muasal terjadinya pembantaian dan eksploitasi.

Etnis asal Amerika Selatan yang tinggal di sekitar Brazilia, Paraguay, dan Argentina, bernama Tupinamba, memiliki kebiasaan menyantap tawanan perangnya sebagai aksi balas dendam demi keluarga yang gugur dalam peperangan. Praktik semacam ini dikenal sebagai Endokanibalisme. Adat tersebut tetap dilakukan sampai awal abad 17. Setelah masuknya bangsa Eropa, terutama Spanyol, suku ini kemudian menghilang. Sebagian berpindah tempat dan sisanya berasimilasi dengan masyarakat Brazilia.

Di Amerika Serikat ditemukan bekas-bekas kanibalisme yang dilakukan oleh Anasazis, Suku Indian kuno yang musnah 1.300 tahun yang lalu. Di sana ditemukan debu dan pecahan tulang, bekas-bekas pengelupasan kulit kepala, mutilasi, bekas luka bakar, dan pemanggangan daging manusia di atas periuk.

Suku Aztec melakukan kanibalisme dalam ritual keagamaannya. Semula, yang menjadi korban adalah tawanan perang, tetapi kemudian merambat pula pada anggota suku sendiri. Diduga, sebagai hukuman bagi kejahatan yang telah dilakukan oleh anggota suku tersebut.

Suku Dayak, selain mengoleksi tengkorak yang telah dikecilkan, ternyata juga memakan jantung korban perangnya. Adat ini disebut ngayau.

Sedangkan Suku Kapau di Papua Nugini menyantap hati dan biseps kanan musuh bebuyutannya.

Etnis lain di Papua, Fore, mengkonsumsi otak manusia yang telah meninggal. Dari sinilah awal penyebaran penyakit kuru. Kuru adalah penyakit degenerasi syaraf yang menyebabkan penderitanya gemetar, kehilangan koordinasi otot, hingga akhirnya tidak dapat duduk tanpa bantuan dan kesulitan untuk menelan. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini hanya dapat menular jika otak penderita disantap oleh manusia lain.

Kuru ditemukan pada awal 1900-an dan mencapai puncaknya pada tahun 60-an. Antara tahun 1957-1968, 1.100 anggota Suku Fore meninggal karena kuru. Jumlah wanita yang terinfeksi penyakit ini delapan kali lebih banyak daripada pria. Diperkirakan, penyebabnya karena kaum wanitalah yang bertugas untuk memasak makanan. Namun, seiring dengan ditinggalkannya praktik-praktik kanibalisme, penyakit kuru nyaris tak lagi ditemukan.

Kita mungkin menyangka kanibalisme hanya dipraktikkan oleh para mbah buyut yang masih primitif. Kenyataannya, manusia modern juga melakukan hal yang sama. Dalam tragedi kecelakaan pesawat di pegunungan Andes pada tahun 1972, 16 orang penumpang yang selamat terpaksa menyantap 29 daging penumpang lainnya yang telah meninggal. Para penumpang asal Uruguay tersebut harus bertahan hidup selama 72 hari sebelum dijangkau oleh tim penyelamat.

Insting untuk bertahan hidup memang tidak berubah dari zaman ke zaman. Tetapi, anda tak perlu coba-coba melakukannya kalau tidak karena terpaksa. Bukan menjadi sakti, malah-malah bisa jatuh sakit.


Posted at 08:41 pm by dria soetomo

yourshop.cc
December 4, 2008   02:58 PM PST
 
http://www.watchesforsale.us
koolsman
May 27, 2008   11:38 AM PDT
 
saya kira suatu saat peradaban seperti itu akan muncul kembali percaya atau .................?
haim
December 3, 2007   01:08 PM PST
 
Kanibalisme meresahkan umat manusia!!!!!!!!!
die to all DAYAK
azwar
August 29, 2007   08:31 PM PDT
 
ngga nyangka ternyata di beberapa belahan dunia ini menyimpan banyak misteri....hiiiiiiiii....serem....
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Home Next Entry