|
|
Friday, April 04, 2008
Kaum Terbaik
SEJARAH Islam diukir dengan darah. Tapi kita tak pernah tahu. Kita diajari untuk menghormati yang suci — utusan Tuhan dan empat khalifahnya yang dijamin masuk surga. Tapi kemudian kita tahu, pelajaran agama bukanlah pelajaran sejarah.
ABU BAKAR diangkat menjadi khalifah di saat Ali masih sibuk mengurus pemakaman Sang Nabi, tiga hari setelah kematiannya. Dalam dua tahun dan tiga bulan masa pemerintahannya, Abu Bakar menambah wilayah Islam hingga dua kali lipat. Ribuan musuh dikalahkan dan pertempuran mengambil nama Taman Kematian dan Sungai Darah. Sebelum demam memutus napasnya, Abu Bakar menunjuk Umar sebagai pengganti.
UMAR adalah sebagai seorang puritan legendaris. Seperti Nabi Muhammad dan Abu Bakar, ia hanya memiliki uang yang cukup digunakan untuk berhaji dan memberi makan keluarganya. Sebab segala sesuatu yang ekstra akan menjauhkan manusia dari Tuhannya. Umar hanya mengenal dua macam pakaian, satu untuk musim panas dan yang lain untuk musim dingin. Dalam perjalanan jauh, ia tidur di atas pasir dengan selembar kain terbentang menutupi langit di atas kepala. Tak ada matras, tenda ataupun segala bentuk perlakuan khusus. Para hakim pengadilan yang berdiri menghormat saat ia memasuki ruangan dianggapnya sebagai bentuk ketidakadilan yang paling awal. Suatu kali, putranya Abu Shahmah, kedapatan mabuk di depan umum. Ia dihukum sebagaimana mestinya. Abu Shahmah tewas setelah didera 80 kali cambukan.
Hikayat mengatakan, bayangan Umar di ambang pintu dapat membuat hening ruangan yang dipenuhi gelak tawa wanita dan anak-anak. Tak ada pengawal maupun prosedur birokratis yang membatasi ia dengan rakyatnya. Setiap hari, ia bisa ditemui di jalan atau di masjid untuk dimintai pendapat. Khalifah kedua ini juga giat melakukan inovasi-inovasi di bidang hukum. Ia berupaya membatasi kemerdekaan perempuan dengan melarang perempuan berhaji, mendorong mereka untuk beribadah di rumah dan menghentikan aktivitas mereka di masjid.
Setelah sepuluh tahun memerintah, hari naas itu tiba. Suatu pagi, Abu Lulu Firuz, seorang budak menemuinya di jalan. Ia mengeluhkan perlakuan tuannya — Gubernur Kufah — yang walaupun membebaskannya tinggal di Madinah, membebaninya dengan setoran uang dua dirham setiap hari. Umar bertanya apa keahliannya dan Abu Lulu menjawab, ia adalah seorang tukang kayu dan tukang cat. Bagi Umar, dengan keahlian ini, Abu Lulu dapat memenuhi permintaan tuannya dan masih dapat hidup layak di Madinah.
Namun, hidup sebagai budak adalah sesuatu yang tak tertanggungkan lagi oleh Abu Lulu. Ia berulang kali diperbudak sejak kecil oleh penakluk-penakluk yang silih berganti datang ke negerinya, Persia. Pagi-pagi sekali, Abu Lulu datang ke masjid dan menunggu khalifah bersujud dalam doanya. Dengan kekuatan seorang gila, ia menusuk Umar berulang kali sebelum jamaah lain menariknya menjauh. Pisau Abu Lulu kemudian menyerang siapa saja yang bisa diraihnya, sebelum akhirnya menghujam tubuhnya sendiri dalam-dalam.
USMAN menjabat sebagai khalifah berikutnya. Ia dikenal sebagai pria yang tampan dengan tinggi sedang, kulit keemasan dan bahu bidang. Bekas cacar air yang pernah dideritanya waktu kecil masih membekas di pipinya. Giginya dihiasi emas sebagai tanda kehidupannya yang makmur.
Usman berasal dari keluarga pedagang terpandang di Mekah. Pada usia 20 tahun ia telah mewarisi sejumlah besar harta yang kemudian ia gunakan sebagai modal untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi. Dalam masa-masa perjuangan yang sulit, Usman merupakan sumber keuangan yang sangat berarti bagi Muhammad.
Berbeda dengan Sang Nabi yang sederhana dan kerap kesulitan mengumpulkan mahar untuk perkawinannya, Usman termasuk dalam golongan pria yang dilirik wanita. Selain mampu memberikan mas kawin berharga, ia sangat memperhatikan istri-istrinya. Satu-satunya kekurangan Usman yang diketahui umum adalah ia tak mau berada di garis depan. Di saat kelaki-lakian dan loyalitas pada agama dibuktikan melalui hujaman pedang, Usman melarikan diri dari medan perang Uhud. Muhammad kemudian memberinya pengampunan.
Untuk mendapatkan hormat dari para prajurit, Khalifah Usman menaikkan gaji tahunan mereka 100 dirham. Ia juga membangun berbagai fasilitas publik, memperluas masjid dan membangun sumur sebagai sumber air bersih gratis. Dibesarkan dalam keluarga pedagang, membuat Khalifah Usman mengerti betul arti uang dan barang. Jika sebelumnya Khalifah Umar melarang kaum muslim untuk memiliki rumah lebih dari empat ¯ masing-masing untuk satu istri, dengan luasan yang tidak terlalu besar ¯ menganjurkan makanan sederhana, melarang kepemilikan berlebihan budak dan hewan ternak, maka di masa Usman, aturan yang sama tak lagi berlaku. Setiap orang dapat membeli tanah dan rumah di kota-kota lain di Jazirah Arab: Mekah, Madinah, Damaskus, Kufah dan Basrah. Usman membangun masjid-masjid megah berlapis pualam. Untuk dirinya sendiri, ia membangun rumah mewah yang cukup menampung semua istrinya, ruang kerja untuk sekretaris dan tamu khalifah, serta dapur yang dapat digunakan untuk memasak makanan bagi siapa saja yang bertandang. Berbagai macam bumbu dan makanan dari negeri lain datang menggantikan roti tawar yang dibuat dari tepung kasar.
Segera, muncullah aristokrat-aristokrat baru. Umumnya, mereka adalah para veteran yang memperoleh banyak harta rampasan perang plus gaji yang besar. Rumah super megah berdiri di berbagai kota penting dan menjadi landmark kota, bahkan hingga 100 tahun setelah ia didirikan. Kuda-kuda impor yang tinggi besar di pelihara di istal bersama dengan 1.000 budak dan 1.000 ternak.
Keadaan kota-kota di Arab berubah cepat pada masa itu. Anak-anak lahir dari harem-harem yang berisi 4 istri dan 40 selir. Dalam urusan politik dan pemerintahan, Usman lebih percaya pada kerabatnya. Berbeda dengan Umar, Usman mengampuni saudaranya yang tertangkap mabuk arak. Meski dihujani kritik, Usman hanya melihat saudara-saudaranya sebagai kepala pemerintahan yang efisien. Enam tahun pertama pemerintahan Usman adalah kepuasan yang diikuti oleh enam tahun ketidakpuasan masyarakat.
Kematian Usman terjadi setelah adzan Jumat dikumandangkan. Para pemberontak yang telah lama mengepung rumahnya, mendapati Usman yang tidak kehilangan ketenangan, membaca Al-Qur'an bersama istrinya Naila. Seorang menarik jenggotnya sebelum menusuk dahinya dengan pedang. Sementara seorang yang lain menghujamkan pedang di belakang telinganya hingga menembus leher. Tidak cukup dengan itu, seorang menduduki dadanya dan menusuk-nusuk tubuhnya. Naila menabrak tubuh suaminya untuk mencegah penghinaan lebih jauh. Dua jarinya putus tertebas pedang. Hari itu, darah khalifah menodai Al-Qur'an yang belum lagi usai dibaca. Warga yang memberontak menolak tubuh Usman dimakamkan di pemakaman para sahabat dan kerabat Nabi. Usman dikuburkan di pemakaman Yahudi yang tak lagi terawat.
ALI disahkan menjadi khalifah ke-empat. Sebagian berpendapat, Alilah yang sebenarnya paling berhak meneruskan kepemimpinan Nabi Muhammad, baik secara politis maupun spiritual. Ali adalah keponakan, anak angkat sekaligus menantu Muhammad. Ia adalah laki-laki pertama yang menyatakan masuk Islam. Sebagian muslim kemudian menolak kepemimpinan 3 khalifah pertama yang telah menelikung Ali dari posisi yang seharusnya. Namun, Ali sendiri adalah seorang politikus jujur yang tak pernah memendam cemburu. Tak pernah ia berkata buruk mengenai 3 khalifah pendahulunya. Tak ada trik dan tipuan yang ia mainkan untuk merebut ataupun mempertahankan suatu jabatan.
Segera, Ali mengganti kerabat-kerabat Usman yang menjabat di pemerintahan. Masalah datang dari Syria. Gubernur Syria selama 20 tahun, Muawiyah, menuntut keadilan atas kematian Usman. Ia memamerkan pakaian Usman yang robek-robek ternoda darah dan potongan jari Naila, istri Usman yang berasal dari Syria, ke seluruh negeri, sebelum memakukannya ke tembok Masjid Agung Damaskus.
Saat perang antara Ali dan Muawiyah hampir dimenangkan oleh pihak Ali, Muawiyah mengusulkan agar persoalan tersebut diajukan ke pengadilan untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi. Dengan dukungan Gubernur Mesir, Amir, Muawiyah kemudian mengangkat dirinya sebagai khalifah di Damaskus dan mempertanyakan keabsahan Ali sebagai khalifah.
Perdebatan pengadilan yang berlarut-larut mengecewakan para pendukung Ali. Mereka kebanyakan adalah bekas tentara yang berperang melawan Muawiyah. Kelompok desersi ini kemudian disebut sebagai kaum Khawarij.
Untuk merayakan 40 tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah, kaum Khawarij memutuskan untuk mengakhiri kekecewaan pada kondisi politik dan mengembalikan kemurnian Islam. Di hari Jumat minggu ke-dua bulan Ramadhan itu, mereka mengirimkan 3 orang pembunuh, masing-masing ke Masjid Agung Damaskus, Fustat dan Kufah, di mana Muawiyah, Amir dan Ali akan menjadi imam shalat. Namun pada Jumat itu, Amir memutuskan untuk absen sebagai imam. Ia berhasil menangkap calon algojonya sebelum hari berganti. Di Damaskus, Muawiyah memimpin jamaah shalat Jumat. Namun para penjaganya menangkap gerakan-gerakan mencurigakan dan meringkus si calon pembunuh. Di Kufah, pembunuh Ali Ibnu Muljam, mengayunkan pedangnya dengan cepat ke kepala Ali. Khalifah Ali meninggal dunia di usia 63 tahun, usia yang sama dengan Muhammad, Abu Bakar dan Umar meninggal dunia. Untuk menghindari musuh menistakan jasadnya, makam Ali dirahasiakan.
Di komunitas Khawarij, Ibnu Muljam disambut sebagai pahlawan. Kematian Ali dijadikannya mas kawin bersama dengan 2 orang budak dan uang 3.000 dirham. Para Khawarij menyanyikan puisi sanjungan, mahar dari Ibnu Muljam merupakan yang terbaik di dunia.
Bagi Khawarij, Islam telah dimurnikan, puasa terus dijalankan dan hijrah Sang Nabi dirayakan. Dan setelah 1.400 tahun, kita dengan mudah menarik batas tegas antara yang suci dan yang profan. Namun kita juga tahu, dogma agama tak lahir dari filosofi sejarah.
Posted at 10:07 am by dria soetomo
Permalink
Tuesday, March 18, 2008
Posted at 11:52 am by dria soetomo
Permalink
Monday, March 26, 2007
Selingkuh dan Kapitalisme ADAKAH selingkuh dan kapitalisme bertaut? Seorang kawan pernah berkata gundah, "Lihat, sekarang kapitalisme pun telah menjamah kaum lelaki." Adalah majalah khusus pria. Iklan di dalamnya kini juga menyajikan krim untuk kulit wajah yang dapat mengalahkan kerut. Sebuah pelembab anti aging khusus pria yang memberikan kadar air, mengencangkan, dan mengurangi garis-garis halus. Pun iklan di televisi. Sehabis berenang, pria dianjurkan memakai lotion pelembab tubuh agar lebih tampan dan dilirik gadis-gadis berpakaian renang. Ada yang bagus dan yang buruk tentang ini. Produk-produk konsumerisme telah membidik pasar yang lebih luas. Bukan cuma perempuan yang sekarang harus menggosok muka dengan krim pelembab sebelum tidur. Laki-laki dan perempuan sekarang sudah memiliki musuh bersama: kulit kering dan garis-garis halus. Mereka bahkan sudah menciptakan nama: woman-oriented man. Laki-laki yang memiliki orientasi seperti perempuan. Melalui serangkaian iklan yang lebih gencar lagi, kita akan segera menyepakati bagaimana seharusnya laki-laki berdandan. Tak ada yang banci, sebab prettyboy hanyalah satu alternatif penampilan. Dunia telah juga menciptakan satu ikon menarik bagi lelaki pesolek. Namanya David Beckham dan kata kuncinya adalah metroseksual. Sekarang laki-laki sah untuk mengecat kuku, pergi ke spa, creambath, manicure, pedicure, dan anti makanan berminyak. Menganut metroseksualisme berarti juga memiliki kemapanan, kepedulian pada kebersihan pribadi, dan kesetiaan pada keluarga. Beberapa tahun lalu di Surabaya, digelar kontes pemilihan pria metroseksual. Panitia memilih beberapa lelaki super kaya sebagai finalis. Yang menarik, seorang finalisnya mengaku, hanya mandi satu kali dalam sehari. Ia tak memiliki kebiasaan berdandan berlama-lama untuk tampil lebih ganteng. Saya curiga, panitia kontes belum bisa membedakan pria metroseksual dengan pria yang semata mampu menjadi metroseksual. Sebab, terkadang kita meniru dan luput memahami esensi. Finalis yang saya sebutkan tadi, akhirnya tidak menang. Ia memang bukan pesolek dan tidak setia pada keluarga. KAWAN saya patut resah. Ia merasa ada sebuah budaya yang dibangun di sini. Sesuatu yang dirancang untuk mendorong kita mengonsumsi. Sebuah teori telah ditemukan, sehingga mimpi indah bisa diciptakan dan kekhawatiran bisa ditumbuhkan untuk mendorong lebih banyak orang berbelanja. Ilmu mengenai manipulasi tingkah laku ini telah diujikan sejak lama. Seorang psikolog kondang di zamannya, John B. Watson meyakini, manusia bisa dilatih untuk menjadi apa pun sesuai keinginan pelatihnya. Ia menyangkal, manusia memiliki sifat bawaan. Eksperimennya yang paling terkenal dilakukan pada tahun 1920. Ia mencobanya pada seorang bayi lucu bernama Albert. Bayi berumur 11 bulan ini memiliki ketakutan terhadap suara-suara keras. Watson memperlihatkan kepada Albert sesuatu yang tidak ditakutinya–seekor tikus putih. Selagi Albert melihat tikus itu, Watson di belakang Albert, memperdengarkan suara-suara keras dengan memukul-mukulkan palu ke batang baja. Albert menangis. Ia mengondisikan ketakutannya pada tikus putih. Kemudian, rasa takutnya menjalar pada benda-benda serupa, seperti kelinci, mantel berbulu, dan janggut putih sinterklas. Sampai sekarang, tak ada yang tahu bagaimana Albert membawa kengerian itu hingga dewasa. Ia tidak disembuhkan oleh Watson. Watson menghentikan percobaannya tak lama setelah itu, dan tak lagi bisa menjumpai Albert. Ia terpaksa meninggalkan karier akademiknya karena terlibat perselingkuhan dengan asistennya. Setahun kemudian, 1921, Watson terjun ke dunia periklanan. Sejak itulah teori psikologi menyusup ke dalam iklan. Watson yang sepenuhnya percaya tingkah laku manusia bisa dibentuk, menerapkan behaviorisme dalam pekerjaannya. Ia membuat konsumen tidak puas dengan apa yang mereka miliki, sehingga mereka selalu membutuhkan produk-produk baru. DAN kita adalah Albert, yang telah dibentuk kelakuannya. Kawan saya yang– dengan sedikit rasa bersalah–terkadang menikmati perempuan yang dieksploitasi untuk menjual produk, telah sadar. Siapa pun, termasuk dirinya, bisa menjadi obyek berikutnya. Saya tahu, ia jeri pada rayuan iklan. Tapi tak ada terapi reversi di sini. Jika ia terbujuk, seperti juga Albert, ia harus belajar menyembuhkan diri sendiri.
Posted at 03:26 pm by dria soetomo
Permalink
Tuesday, January 23, 2007
Menyoal Setan
yang Salah
APA yang paling disalahkaprahi orang-orang dalam dunia televisi? Saya akan bilang: Rating. Sistem pemeringkatan ini kerap dihujat. Ia
dituding sebagai penyebab televisi kita dipenuhi program-program tak bermutu. Namun,
kebanyakan orang yang saya temui membicarakan rating, biasanya tak tahu banyak
soalnya. Sepertinya mereka hanya mengulang cerita buruk seseorang tentang
rating terus-menerus, hingga akhirnya kisah tersebut dipercaya sebagai
realitas. Serupa betul dengan cerita hantu di Pekuburan Jeruk Purut.
Apa yang salah dengan rating televisi versi Nielsen? Tentunya kita semua
sepakat, sistem yang mereka gunakan jauh dari sempurna. Alat pengukur bernama people meter itu tak bisa mengerti, terkadang
orang menyalakan tv untuk kemudian buang hajat di WC. Kita juga bisa
mempertanyakan, sudah benarkah Nielsen mengelompokkan orang dalam
kategori-kategori? Sudah benarkah mereka menghitung?
Nyatanya, belum ada lembaga lain yang dapat memeringkat program televisi
kita secepat, selengkap dan sedinamis Nielsen. Banyak orang menggugat sistem
Nielsen. Namun, saya belum menemukan orang yang mendasari argumennya dengan
penelitian yang empiris. Banyak pula yang menggugat dengan angka-angka, tapi, tak
jelas benar darimana angka-angka ini datang. Terkadang, saya takjub, seorang
Ph.D lulusan negeri seberang pun dapat salah memahami angka-angka dan
statistika.
Dan tetap saja, tak ada yang mengajukan sistem yang lebih baik daripada
yang digunakan Nielsen sekarang. Sedang programer televisi kita butuh tahu
profil penontonnya, kebiasaan mereka, dan di jam mana meletakkan program apa. Mereka
membutuhkan data untuk dianalisa. Akhirnya, Rating Nielsen menjadi satu-satunya
pilihan. Dan kita, mau tak mau, beriman kepadanya.
SAYANGNYA, apa yang kita imani sering kita wujudkan dalam kelakuan yang
keterlaluan. Kadang kita abai, rating hanya menunjukkan program yang paling
banyak ditonton, bukan program yang paling bagus, apalagi bermutu. Ia hanya
barometer kuantitas bukan kualitas. Di sinilah diperlukan kreativitas para
pekerja televisi untuk membuat program yang baik, bukannya menyerah begitu saja
pada apa yang ‘kebetulan’ banyak ditonton orang. Andai saja kita punya sedikit
komitmen, akan semakin banyak program mendidik ditayangkan.
Sebab, selera masyarakat diciptakan. Dulu, saat telenovela yang pertama
ditayangkan, jumlah penontonnya tak banyak. Setelah film-film semacam ini
diputar terus-menerus, barulah ratingnya terus naik.
Rating pun tak selalu dijadikan acuan para media planner memasang iklan. Pada intinya, mereka menempatkan iklan
di program televisi yang sekiranya efektif mengenai target pasar produk yang
diiklankan. Karena itulah slot iklan Film Seri X-Files tak pernah sepi. Serial ini, walaupun ratingnya tak tinggi,
namun penontonnya cukup homogen sebagai sasaran produk tertentu.
Hampir separuh masyarakat kita –49% tepatnya, menurut data Bank Dunia–mempunyai
daya beli di bawah US$ 2 per hari. Dengan kemampuan seperti ini, besar
kemungkinan mereka menelan apa saja yang ditayangkan televisi, apalagi jika tak
ada pilihan. Tapi, kalau kita mau bersusah payah sedikit, menayangkan program
yang mendidik, masyarakat yang separuh itu akan berkembang. Termasuk juga tingkat
konsumsinya. Artinya, dalam jangka panjang, mereka juga akan menjadi pasar yang
menjanjikan bagi industri televisi. Suatu investasi yang seharusnya kita mulai
dari sekarang.
RATING, sistem pemeringkatan program yang belum ada bandingannya ini, diterima
pekerja televisi dengan rasa ambigu. Saat angkanya rendah, ia dihujat.
Sebaliknya, saat rangking program menanjak, kita tak hendak menggugat. Ambiguitas
kadang menimbulkan guilty pleasure
yang tiada tara.
Tapi, sudahlah, tak perlu terlalu keras mengkritik diri sendiri. Sebab
manusia memang kerap lupa. Setelah Smackdown
diturunkan oleh Lativi tanpa pembelaan sedikit pun, kita lupa, masih banyak tayangan
kekerasan di layar kita. Kita lupa, dulunya sering menampilkan gambar mayat
berdarah-darah dan orang mati gantung diri. Kita lupa, masih memunculkan visual
vulgar orang berpukul-pukulan di awal berita. Kita membuat talkshow membicarakan berakhirnya Smackdown dan lupa tangan kita pun berlumur darah. Kita juga lupa,
kita bisa menjadikan rating sebagai dalih membuat program sesat atau bisa juga
tidak. Lalu, apa lagi yang akan saya bicarakan? Ah, saya sudah lupa....
Posted at 08:52 pm by dria soetomo
Permalink
Monday, December 11, 2006
Cerita dari Pinggir Kota
SAYA pernah pergi ke tempat di mana kewarasan dan kegilaan berbaur di bawah satu atap. Rumah itu berbau seperti tahi ayam. Baunya sudah menusuk begitu pagar pintu rumah dibuka.
Di rumah ini, tinggal seorang Engkong berumur lebih dari 90 tahun. Ia memiliki cinta yang besar, yang mampu menampung 200 orang gila di rumahnya. Orang-orang gila ini berasal dari trotoar kota atau dari keluarga-keluarga yang tak mampu membayar jasa rumah sakit jiwa.
Tempat perawatan bagi mereka terpisah dari rumah utama, tempat Engkong tinggal bersama keluarga besarnya. Kami diajak untuk melihat-lihat orang gila yang mereka rawat. Ada seorang gadis belasan tahun, kurus, korengan dengan rambut nyaris botak tak beraturan seperti digunduli paksa. Gaun pendeknya tak terkancing di bagian punggung. Ia menangis histeris saat hendak diperlihatkan kepada para tamu. Mati-matian menolak karena tak memakai celana dalam. Ora kathokan! Ora kathokan!
Engkong dibantu oleh sepasang saudara kembar untuk mengurus pasien-pasiennya. Sebut saja, Rono dan Mono. Mereka berdua hafal semua nama pasien yang jumlahnya 200 orang itu. Rono bercerita, ia tinggal di rumah Engkong sejak kecil karena ibunya ditolong oleh Engkong. Untuk membalas budi, mereka berdua bekerja di sini sejak tahun 1985, sepuluh tahun sejak Engkong pertama kali mengobati orang gila.
Merawat orang gila harus sabar, katanya. Saya sudah pernah dimaki, dipukul, digigit, ditendang, diludahin dan dibanting sama orang gila. Dulu, jumlah orang gila di sini cuma 75 orang. Tapi, mereka ganas-ganas. Rantai digigit sampai putus, ayam lewat, diperkosa. Begitu denger geledek, lari sekenceng-kencengnya ke kuburan sambil bawa-bawa bantal.
Cara Rono dan Mono mendidik pasien-pasien Engkong mirip betul dengan acara orientasi mahasiswa baru. Setiap lewat subuh, ada senam pagi, dilanjutkan dengan bersih-bersih. Setelah itu baru mandi. Beberapa pasien harus dimandikan oleh Rono dan Mono. Setiap waktu berselang, mereka yang tak mampu mandi, harus pula dirawat dengan dipotong kuku dan rambutnya, disuapi serta dibersihkan kotorannya. Sore-sore, mereka dikumpulkan lagi untuk bernyanyi dan berdoa. Lengkap karena ditambahi sedikit bentakan. Untuk hiburan, ada acara kuis. Hadiahnya cukup menarik; sebatang rokok. Pertanyaannya pun cukup mudah.
Siapa presiden pertama RI?
Soekarnoooo!!!
Yak, betul!
Selain acara rutin untuk mengajar mereka berdisiplin, Engkong punya ramuan khusus menyembuhkan orang gila. Asli menggunakan tanam-tanaman. Tapi, itu resep rahasia. Tak ada yang tahu kecuali dirinya. Ramuan khusus ini manjur berkat doa, pijat dan tiupan ke ubun-ubun. Engkong, konon mempunyai ilmu lebih. Ia juga menerima orang yang jadi gila karena jin dan kesaktian.
Sebagian orang menganggap, inilah rahasia mengapa Engkong keliatan dua puluh tahun lebih muda dari usianya yang lebih 90 itu. Ia masih sanggup berjalan 3 km di siang bolong untuk berpawai 17 Agustus-an bersama para pasiennya.
Tak semua pasien tentunya, dapat diajak berkarnaval dan jalan-jalan. Ada perempuan yang dikunci di dalam kamar karena tak pernah mau mengenakan baju. Padahal, umurnya baru 21 tahun dan sedang mengandung. Ia jadi gila karena perlakuan suaminya. Setiap hari, ia harus disuapi petugas laki-laki untuk makan. Memilukan, karena petugas masih juga membentak-bentak.
Tidak semua yang ada di sini gila. Yang paling muda, bocah laki-laki berumur sekitar 13 tahun. Ia punya kelainan syaraf dan terlantar belaka. Yang gila pun, tak semuanya tampak kurang waras. Ada mas-mas tukang insinyur yang gagah, eks pegawai BPK yang dituduh korupsi, hingga lulusan Pesantren Gontor. Banyak lagi yang kondisinya kumal dan menyedihkan. Kalau Engkong sedang berjalan-jalan dengan mobilnya, ia masih suka mengangkut setiap orang gila yang tertangkap pandangan mata. Semuanya ia bawa pulang.
Ciri orang yang penyakitnya sudah parah, kata Engkong, kalau dia sudah makan kotorannya sendiri. Yang begitu susah disembuhkannya.
Yang paling susah ngajarin mereka kebersihan. Udah dimandiin dan dikasih pakaian baru, malah ganti lagi sama baju yang lama. Kalau dikasih roti juga begitu. Kalau rotinya diparuh dua, satu kita berikan ke pasien, satunya lagi kita buang, roti yang dibuang ini yang dimakan sama dia. Sedang roti yang bersih cuma digenggam aja.
Fasilitas di tempat ini tak dapat dikatakan baik. Kamarnya lembab dan bau, campuran bau keringat yang tak pernah kering dan bau pakaian yang berhari-hari direndam. Walaupun baunya menusuk, saya mencoba masuk ke dalam kamar. Tapi, langkah saya terhenti karena penghuni yang meringkuk di pojok tiba-tiba menyemburkan ludah bercampur dahak yang tepat jatuh di ujung sepatu.
Kasurnya hitam dan keropos. Entah, kutu dan kuman macam apa yang betah mendekam di situ. Inilah tempat terbaik bagi manusia kurang beruntung. Walaupun daya tampungnya sudah kelewat batas, Engkong tak mampu menolak orang-orang gila hasil razia polisi dan dinas sosial yang dibawa ke rumahnya.
Wilayah antara pasien dan rumah Engkong dibatasi pagar dari kayu dan bambu. Pasien berada di dalam pagar ini. Pada jam makan siang mereka boleh keluar untuk mengambil makan. Porsi makan ditentukan sendiri oleh masing-masing pasien. Tiga piring pun boleh asalkan sanggup. Lauk-pauknya kelihatan lumayan. Beberapa pasien yang suka melarikan diri, diikat kakinya menggunakan rantai.
Cerita Mono, kalo pasien lari, kita yang repot nyarinya. Khawatir ada apa-apa. Jangan-jangan malah dipukulin orang kampung.
Saya berbicara dengan orang-orang yang berada di luar pagar. Ia keliatan waras. Tak disangka, beberapa saat kemudian, ia masih harus dirantai. Bekas pecandu narkoba, kata Mono, masih suka kabur.
Satu lagi yang mengajak saya bicara, orang berbadan tinggi besar dengan gumam yang tak jelas. Temannya bilang, orang itu dulu suka memakan bangkai manusia. Mungkin keterangan itu benar, karena yang ditunjuk, masih dengan gumam tak jelas, sedang menunjukkan kepada saya cara ia membuka tali pocong.
Dia, tunjuk Mono kemudian, dulunya hiperseks. Adiknya sendiri diperkosa. Setelah keluar dari penjara, oleh polisi dibawa kemari. Baru sebentar di sini, dia sudah ngeraba-raba tetek pasien lain. Sekarang sih sudah sembuh. Gak doyan perempuan sama sekali. Sekarang jadi satpam di sini.
Tak semua mantan orang gila diterima kembali oleh keluarga mereka. Yang terbuang, diterima kembali di rumah ini sebagai karyawan. Lama kesembuhan mereka bervariasi. Ada yang waras dalam hitungan hari, tapi, ada juga yang tak berubah kondisinya walaupun sudah berbulan-bulan. Panti sosial swadaya ini punya kriteria sendiri dalam menentukan sembuh tidaknya seorang pasien.
Kriteria sembuh mungkin bisa berbeda-beda. Kriteria dokter beda, kriteria psikolog beda, kriteria psikiater juga beda. Kalau buat saya sih, asalkan si pasien ini sudah tahu malu, kata-kata dan perbuatannya sudah benar, berarti dia sudah sembuh, terang Rono.
Ada orang luar yang berbisik sumir, kadang-kadang pasien di situ dipake sama yang jaga. Mungkin benar. Bisa jadi tidak.
Sebelum saya pulang, Mono sempat berkata, sampe sekarang, saya gak tau kenapa Tuhan menciptakan penyakit seperti ini.
Posted at 01:51 pm by dria soetomo
Permalink
Thursday, December 29, 2005
BETWEEN GOD, MOSES AND PHARAOH
TUHAN MAHA PARADOKSAL KAPANKAH pertama kali kita mendengar kisah Musa dan Firaun? Saya tak ingat jelas. Waktu itu saya masih SD. Guru agama yang menuturkan ceritanya di muka kelas. Dengan gaya piawai ia berkisah, Musa berusaha meyakinkan Firaun untuk mempercayai Tuhannya. Segala argumen ataupun sihir penyihir Firaun berhasil dikalahkan Musa. Namun, Raja Mesir tak juga percaya. Ia bahkan mengejar Musa bersama pengikutnya lari menyeberangi Laut Merah yang terbelah. Dengan kereta kuda, ratusan pengawal raja siap menerkam dari belakang. Tetapi, setelah Sang Nabi sampai ke ujung, Tuhan lalu menutup kembali laut yang menganga. Firaun bersama prajuritnya tewas tertimpa gelombang. Binasa di dasar laut. Mati mengenaskan. Seketika, kening saya berkerut. Bagaimana mungkin? Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Bukankah Ia bukan sekedar penyayang, tetapi MAHA? Mengapa ia tega menenggelamkan ratusan orang, hanya karena mereka bukan jenis yang mudah percaya? Bagaimana tega? Saya tak menemukan jawaban. Cerita pertama tentang paradoksal Tuhan saya bawa hingga dewasa. ***** DEFINISI Ketuhanan diajukan manusia berulang-ulang sejak kita memutuskan untuk mempercayai keberadaan The Supreme Being. Tentu saja, jauh lebih mudah meyakini Tuhan sebagai Maha Pemelihara. Mungkin karena itu pula, sejak kecil, anak diajari untuk melihat Tuhan sebagai Maha Penyayang, Maha Pemberi. Kita tak hendak mengatakan Tuhan sebagai Maha Buas dan Penyiksa. Tapi, jika kita kembali kepada konsep awal Tuhan sebagai The Supreme Being, siapakah kita yang hendak membatasi ke-Maha-an Tuhan sebatas Pengasih dan Penyayang? ***** KISAH Musa versus Firaun telah dituturkan selama lebih dari 3.000 tahun. Setelah mendengar cerita itu, baru sekitar 15 tahun kemudian saya tahu versi lainnya. Versi-versi yang didasarkan pada temuan-temuan ilmiah. Musa diperkirakan hidup pada masa Ramses II, Firaun paling hebat dan paling awet hidupnya. Umurnya mencapai 90 tahun. Ramses II terkenal sebagai pembangun kuil-kuil terbesar Mesir dan panglima perang yang berhasil memperluas pengaruhnya. Ia juga Firaun yang memiliki jumlah anak paling banyak, 125. Permaisurinya, Nefertari, disebut sebagai perempuan dengan kecantikan tanpa banding. Namun, sebagian ahli bilang, bukan Ramses II yang tenggelam di Laut Merah. Pasukan Mesir yang mengejar Musa dipimpin oleh Amon-her-khepeshef, putra sulung Firaun yang saat itu menjabat sebagai jenderal militer. Calon Ramses III inilah yang dikalahkan Musa beserta pengikutnya. Ia tewas dengan luka di kepala. Kejadian ini terjadi bukan di Laut Merah (Red Sea), melainkan di Reed Sea, kawasan rawa-rawa yang dilewati Musa dalam pelariannya. Diduga pula, pelarian Musa lebih berkait dengan soal politik. Istana Firaun didiami puluhan selir dan anak. Sebagai salah satu Pangeran Mesir, Musa bersaing dengan Amon-her-khepeshef. TEORI lain juga tak kalah menarik. Ahli sejarah mengira, Musa adalah Firaun itu sendiri. Ia adalah Akhenaten, Raja Mesir yang terkenal karena meninggalkan Dewa-Dewa dan memilih seorang Tuhan saja. Akhenaten memerintah puluhan tahun sebelum Ramses II. Ia menikah dengan saudaranya lain ibu, Nefertiti, perempuan paling cantik di dunia. Akhenaten menutup semua kuil lama Mesir dan membangun kuilnya sendiri. Kebijakan ini membuatnya tidak populer di kalangan para pendeta tradisional. Akhenaten terpaksa turun takhta. Bersama para pengikutnya, ia mengasingkan diri, pergi melewati daerah rawa-rawa. Walaupun tersingkir, beberapa ajaran Akhenaten, konon masih bersisa pada agama masa sekarang. Tiga milenium kemudian, dongeng cinta Musa dan Nefertiti siap dijadikan film. Syutingnya sudah dimulai sebelum terompet pesta tahun baru 2006 ditiup. ***** HIPOTESIS berdasarkan fakta ilmiah memberikan 'justifikasi' terhadap 'kekejaman' Tuhan. Tapi, dunia tetap mengajarkan paradoks pada saya. Di antara nama-nama mulia Tuhan, disebut Ia sebagai Maha Penyiksa. Mungkin maksudnya, hanya Ia yang berhak mengazab manusia pendosa. Ia tetap paradoksal. Sayangnya, tak ada yang menceritakan itu 15 tahun yang lalu.
Posted at 12:52 pm by dria soetomo
Permalink
Monday, December 12, 2005
Alam, Tsunami, dan Cara
Memperpanjang Umur
PASCA tsunami 24 Desember 2004, saya duduk di salon sebelah, mendengarkan
siaran radio yang diputar keras-keras.
“Bencana ini pasti
hukuman dari Tuhan. Kita harus banyak introspeksi diri dan lebih mendekatkan diri
pada-Nya,” kata seorang ibu yang menelpon ke stasiun radio itu.
Tak lama, seorang partisipan
lain menyanggah, “Tuhan itu Maha Pengasih. Dia tidak mungkin menghukum
hamba-Nya sedemikian kejam. Tuhan tidak kejam.”
Seusai gelombang
tsunami surut, pertanyaan tentang kuasa Tuhan menggelora. Ada pelajaran yang
tak mudah dicerna manusia, yaitu alam yang tak punya kepedulian. Manusia dengan
otaknya selalu bertanya “mengapa?”, “apa maksudnya?”. Kita terbiasa hidup
dengan melihat adanya tujuan.
Tapi alam tak punya maksud.
Alam tak kejam, tapi ia juga tak punya kasih sayang. Ia ada tanpa rasa.
Hanya ada satu yang
menjadi kepedulian alam: penerusan DNA dari leluhur ke generasi berikutnya. Karena
itu, alam tak berbelas kasih pada laba-laba jantan yang dimakan betinanya
seusai kawin. Betina yang kenyang akan membuahkan telur yang baik. Salmon
bertelur sebanyak-banyaknya sebelum mati kelelahan. Capung dan kumbang limbah
bertelur dan jatuh mati. Spesies lain hanya berumur sampai ia melahirkan
penerus.
Setiap saat, termasuk
ketika saya sedang duduk creambath di
salon, jutaan binatang sedang berlari ketakutan dikejar predatornya. Sebagian
mati ketakutan, sebagian lain mati kesakitan diremukkan tulang-tulangnya. Ada
yang kesakitan terkena bisa beracun, sedangkan lainnya kesakitan digigiti gigi
yang tajam-tajam. Alam tak memberinya anestesi alami atau cara lain yang lebih
mudah. Alam tak peduli. Ia tak kejam, tapi juga tak baik hati. Sebagian makhluk
lain dimakan parasitnya hidup-hidup dari dalam tubuh.
Maka, ketika lempeng
bumi patah dan air laut yang terkocok membunuh 100 ribu manusia di ujung
Sumatera dan Semenanjung India, alam tetap tak punya rasa. Ia tak tahu dan tak
ambil pusing. Alam hanya mengunggulkan individu-individu yang mewariskan gennya
dengan cara yang paling efisien. Individu-individu yang rela bereproduksi
sampai mati.
Cara Memperpanjang Umur
KITA
berpacu menghadapi alam. Berpacu menghadapi peristiwa wajar yang membuat kita
jeri. Peristiwa yang lalu kita sebut sebagai bencana. Tapi manusia tak merasa
cukup. Kita juga berjuang melawan usia. Hanya saja, alam tetap masa bodoh.
Karena kita sudah tahu
satu-satunya kepedulian alam hanyalah proses penerusan bibit unggul, maka, demi
memperpanjang usia, kita dapat melakukan beberapa hal untuk mengelabui alam. Seorang
peneliti berhasil memperpanjang usia seekor tikus dengan cara menunda proses
reproduksi tikus tersebut.
Dengan kata lain,
jika kita misalnya, dapat menunda proses pematangan organ-organ reproduksi dari
usia 12 tahun menjadi 42 tahun, kesempatan hidup kita bisa dibilang akan lebih
panjang. Konsekuensinya, kita juga akan menunda seks, mengingat manusia baru
akan akil baliq di umur 40-an. Relakah manusia? Saya yakin akan banyak orang
menjawab “ya”.
Alam punya proses
seleksi yang efisien. Ia tak akan memberi nilai pada umur manusia yang panjang
tapi pelit pada proses penerusan gen. Nah, ini cara kedua. Tanpa menunda proses
akil baliq, jika manusia bisa menunjukkan pada alam, semakin tua manusia,
semakin ia akan mewariskan DNA yang lebih unggul, alam mungkin akan memihak
kita.
Bagaimana cara
melakukan itu? Biar para ilmuwan mencobanya sampai dapat. Kulit saya sensitif.
Pijatan ringan kapster pun dapat memecah pembuluh darah di bawah kulit dan
membuat badan saya biru-biru. Sekarang lebih baik saya berpikir, apakah creambath membuat saya makin sehat atau
makin pusing.
Posted at 12:30 pm by dria soetomo
Permalink
Wednesday, October 12, 2005
Serangga itu Namanya Kecoak
BINATANG kecil pipih berkaki enam bergerigi ini biasa muncul di malam hari dari balik dinding dan gorong-gorong. Warnanya cokelat merah kehitaman. Kemunculannya kerap kali membuat orang jijik. Apalagi, ia termasuk serangga yang susah dibasmi.
Kecoak atau lipas sudah hadir sejak 300 juta tahun silam tanpa banyak berevolusi. Ia ditakdirkan untuk bertahankan di segala musim dan iklim, dari panas yang menyengat sampai dingin yang membekukan. Kecoak bahkan lebih resisten terhadap radiasi dibandingkan dengan makhluk lain. Saat bom atom dijatuhkan di Jepang pada era Perang Dunia II, kecoak termasuk spesies yang selamat. Pembelahan sel di tubuh kecoak lebih lambat daripada pembelahan sel di tubuh manusia. Karena itu, sel tubuh mereka lebih tahan menghadapi radiasi.
Planet bumi, saat ini menghidupi lebih dari 3.000 spesies kecoak. Mereka tersebar di dalam rumah, restoran, rumah sakit hingga hutan lebat Amazon.
Hebatnya lagi, kecoak dapat bertahan hidup selama berhari-hari tanpa kepalanya. Betul, kecoak tidak butuh otak untuk alat kontrol tubuh. Ia juga tidak butuh kepala untuk bernapas. Kehilangan kepala juga tidak membuatnya kehabisan darah. Tetapi, ia membutuhkan kepala untuk makan. Jadi, kecoak tanpa kepala akhirnya akan mati juga karena kelaparan.
Di alam bebas, kecoak menjadi santapan burung, mamalia kecil, dan binatang amfibi. Namun di perkotaan, kecoak nyaris tidak punya musuh, kecuali Anda yang mati-matian berusaha membunuhnya, meski sering tidak mudah. Dan kalau Anda mengira kecoak bisa mampus dengan sekali pukul, Anda salah besar! Punggung kecoak memiliki pelindung yang kuat. Beberapa menit berselang, kecoak itu pasti sudah kabur entah ke mana. Kecuali, jika Anda membalik tubuh si kecoak.
Ketahanan kecoak diimbangi pula dengan kecepatannya berkembang biak. Dalam sebulan ia bisa menghasilkan lipas yunior lebih dari 40 ekor. Mereka kaum omnivora. Makan apa saja; feses, lem, sisa makanan di dapur, organisme mati (termasuk mayat manusia), keturunannya sendiri, bahkan bir pun dilahapnya.
Selain menyebabkan fobia pada manusia, kecoak dituding mengontaminasi makanan dengan bakteri dan penyakit. Ia juga dituduh menyebabkan gangguan pernapasan dan memicu asma.
Nah, lalu apa guna kehadiran kecoak? Binatang menjijikkan berjumlah miliaran dan susah dibasmi ini ternyata punya kegunaan. Kecoak itu bagian dari rantai makanan. Kalau ia hilang, ibarat rantai, tanpa kehadirannya, motor atau sepeda Anda tidak akan bisa berjalan. Jadi, tanpa kecoak, hewan pemangsa kecoak juga bisa lenyap. Begitu seterusnya.
Selain sebagai santapan binatang lain, kecoak juga dapat membantu membantu membersihkan lingkungan kita dari sisa-sisa organisme. Mereka kan doyan menyantap sisa-sisa organisme mati.
Jika Anda merasa sudah rajin bembersihkan rumah tetapi masih melihat kecoak menginvasi dapur Anda, jangan buru-buru merasa terintimidasi! Bergembiralah! Percaya atau tidak, ini sesungguhnya bukti bahwa lingkungan rumah anda sudah bersih. Saking bersihnya sampai-sampai tidak menyisakan makanan bagi sejumlah kecil koloni kecoak. Akhirnya, mereka nekad mengorek-ngorek sisa makanan di dapur.
Pernah dengar tidak, kecoak ternyata mengandung protein tinggi? Layak santap dong? Tepat sekali! Asal Anda tidak merasa jijik. Saya punya resepnya.
Kecoak Panggang Bahan: - kecoak beberapa ekor - bawang putih secukupya - garam secukupnya
Cara memasak: Potong keenam kaki kecoak serta sayapnya. Buang bagian kepala. Buat irisan memanjang di bagian perut kecoak supaya bumbu meresap. Campur dengan bawang dan garam. Panggang hingga matang. Sajikan.
Nah, kalau Anda tipe penyayang binatang dan tidak tega membunuhnya, silakan dipelihara saja. Saat ini ada saja yang tertarik menjadikan kecoak sebagai binatang kesayangan. Umumnya, mereka memang tertarik pada binatang-bintang eksotis.
Seorang teman saya yang hobi memelihara hewan aneh-aneh, pernah memelihara kecoak pada waktu ia masih kanak-kanak. Jumlahnya dua ekor. Kecoak itu ia kandangkan dalam kotak sepatu dan secara regular ia beri makan. Sayangnya, kedua hewan imut itu melarikan diri saat pembantu rumah tangga teman saya membersihkan kamarnya. Menarik bukan? Mau coba?
Posted at 08:59 pm by dria soetomo
Permalink
DAGING MANUSIA Bikin Kenyang Plus Mumpuni
KISAH Sumanto yang menggali kubur dan menyantap daging manusia sempat menimbulkan kehebohan dan membuat pendengarnya bergidik. Kanibalisme memang bukan ritual yang dianggap etis oleh spesies manusia modern. Padahal, dahulu nenek moyang kita memang pernah dibumbui dan dihidangkan di meja makan. Alasannya bermacam-macam, dari kekurangan makanan, peperangan, hingga kegemaran akan rasanya.
SATU fakta yang tak banyak diketahui orang mengenai topik kanibalisme adalah perdebatan panjang di kalangan para ilmuwan mengenai keberadaan kanibalisme itu sendiri. Kanibalisme -atau istilah kerennya anthropopagy- didefinisikan sebagai tindakan memakan daging manusia oleh manusia lain. Tak ada seorang ilmuwan pun yang dilaporkan telah menyaksikan praktek kanibalisme dan tak satu pun kultur yang mengakui adanya praktik tersebut. Ethnolog Amerika Serikat, Williams Arens bahkan terang-terangan menolak keberadaan kanibalisme dalam bukunya, Man-eating Myth, yang dipublikasikan tahun 1979.
Ada yang menyebutkan, perbuatan memakan spesies sendiri hanya dilakukan oleh hewan semacam belalang sembah, dan laba-laba janda hitam, di mana sang betina memangsa pasangannya setelah perkawinan. Atau hewan-hewan seperti serigala, kepiting, singa, semut, ikan dan simpanse super agresif yang memangsa sesamanya.
Awal perdebatan mengenai kanibalisme dimulai pada abad 19 ketika seorang ilmuwan bernama P. Gortanovic menemukan dan menyelidiki tulang-tulang peninggalan Neandertal yang terpendam di gua Krapina, Kroasia tahun 1899-1905. Bertahun-tahun kemudian tulang-tulang tersebut diteliti ulang oleh arkeozoolog bernama Marylène Pathou-Mathis. Pathou-Mathis meneliti lebih dari 2.000 fosil, sebagian di antaranya merupakan tulang manusia. Hasilnya, ia mendapati retakan memanjang pada tulang paha dan tulang kering di lebih dari 50 dari 650 tulang manusia yang ditelitinya. Retakan itu serupa dengan retakan yang terdapat pada tulang bison, badak, rusa, dan hewan-hewan liar lain yang merupakan konsumsi pada masa paleolitikum. Bentuk retakannya mirip dengan bentuk retakan yang kita buat jika kita ingin mendapatkan sumsum lebih banyak.
Dugaan adanya praktik kanibalisme ditemukan pula di situs Neandertal yang lain, yang dikenal sebagai Moula-Gercy, di gua kapur di sepanjang Sungai Rhone di selatan Prancis. Di tempat ini ditemukan tulang 6 manusia yang diduga korban praktik kanibalisme Neandertal. Dari gigi dan rahangnya, diperkirakan para korban terdiri dari 2 orang dewasa, 2 remaja berumur 15 atau 16 tahun, dan 2 anak-anak berumur 5 atau 6 tahun. Tulang-tulang itu bercampur dengan tulang-tulang hewan yang tersebar di seluruh gua, dengan perlakuan dan goresan-goresan yang sama.
Dengan adanya fakta-fakta tersebut, para ahli menyusun beberapa teori. Jean-Jacques Hublin, paleontolog dan spesialis Neandertal memperkirakan, kerusakan yang terjadi pada tulang-tulang tersebut disebabkan oleh hewan karnivora, bebatuan, dan perlakuan yang kurang baik karena Neandertal belum mempunyai ritual penguburan. Namun, teori itu dibantah banyak arkeolog lain. Dengan volume otak yang tak jauh berbeda dengan volume otak manusia modern, Neandertal diduga telah mampu menyusun ritual pemakaman. Di beberapa gua didapati Neandertal yang dimakamkan dengan hati-hati dalam posisi tidur, kepala menghadap ke barat dan kaki menghadap ke timur. Beberapa di antaranya bahkan dikuburkan bersama-sama agar tak terpisahkan oleh maut.
Marylène Pathou-Mathis sendiri memiliki hipotesis lain. Melihat perbandingan jumlah tulang manusia yang jauh lebih sedikit daripada jumlah tulang hewan yang ditemukan, Neandertal sebenarnya tidak mengkonsumsi daging manusia. Tetapi, karena adanya wabah kelaparan, maka terpaksa mereka menyantap daging dari spesies sendiri. Teori ini pun diragukan kebenarannya, mengingat di seluruh gua tulang-tulang hewan berserakan banyak sekali.
Dari perlakuan terhadap tulang-tulang tersebut, belum dapat diambil kesimpulan bahwa daging manusia merupakan hidangan yang umum disajikan. Lalu, mengapa Neandertal memakamkan sesamanya dan menyantap yang lain? Sebagian ahli menyebut, Neandertal sama seperti manusia modern di berbagai belahan bumi yang memiliki perbedaan tingkah laku sosial. Namun, bisa jadi sebagian leluhur kita memang menggemari daging manusia.
Dan, Neandertal bukanlah satu-satunya pelaku kanibalisme. Pada tahun 1984 ditemukan 13 lubang di Baume Fontbrégoua di Provence, Prancis. Sepuluh di antaranya berisi tulang-tulang babi hutan dan domba. Sedangkan tiga lainnya berisi puluhan tulang-tulang manusia muda berukuran kecil, lagi-lagi dengan retakan yang sama seperti tulang hewan. Tulang-tulang berumur 6.000 tahun itu merupakan peninggalan Homo sapiens sapiens, yang diperkirakan menghidangkan balita sebagai santapan.
Tetapi, kanibalisme tidak hanya dilakukan karena alasan doyan. Dalam praktiknya, kanibalisme berkembang menjadi perburuan kepala. Di gua dekat Peking, arkeolog menemukan 8 peti tengkorak peninggalan Homo erectus. Tengkorak-tengkorak tersebut dipotong secara metodis, kulit kepala dikelupas, lidah dan otot wajah dicabut. Belum diketahui pasti fungsinya, apakah digunakan sebagai objek ritual seperti halnya Suku Aztec atau sebagai tropi seperti tengkorak yang diletakkan di ujung lembing prajurit Dayak.
Paleontolog cenderung memperkirakan, kanibalisme dilakukan dalam peperangan untuk membangkitkan semangat juang pasukan atau untuk mengambil kekuatan dari orang yang bersangkutan. Jadi, bukan hanya Sumanto di Indonesia yang makan daging orang supaya bertambah sakti.
Christy G. Turner, arkeolog Amerika menambahkan, praktik kanibalisme dilakukan untuk melindungi suku dan daerah kekuasaan. Tindakan ini diambil dalam upaya menakuti lawan agar membatalkan penyerangan.
SUKU-SUKU KANIBAL KANIBALISME diduga telah menyebar pada masyarakat primitif di seluruh dunia, di antaranya Afrika Tengah dan Barat, Melanesia (termasuk Indonesia), Polynesia, Suku-suku Indian di Amerika Utara dan Selatan, Suku Aborigin di Australia, dan Suku Maori di Selandia Baru.
Pada tahun 1492 Christoprus Colombus menemukan kepulauan Karibia. Dan penduduk aslinya yang setengah telanjang ternyata adalah kanibal! Bagi bangsa Eropa waktu itu, kanibal merupakan makhluk yang sangat berbahaya. Inilah asal-muasal terjadinya pembantaian dan eksploitasi.
Etnis asal Amerika Selatan yang tinggal di sekitar Brazilia, Paraguay, dan Argentina, bernama Tupinamba, memiliki kebiasaan menyantap tawanan perangnya sebagai aksi balas dendam demi keluarga yang gugur dalam peperangan. Praktik semacam ini dikenal sebagai Endokanibalisme. Adat tersebut tetap dilakukan sampai awal abad 17. Setelah masuknya bangsa Eropa, terutama Spanyol, suku ini kemudian menghilang. Sebagian berpindah tempat dan sisanya berasimilasi dengan masyarakat Brazilia.
Di Amerika Serikat ditemukan bekas-bekas kanibalisme yang dilakukan oleh Anasazis, Suku Indian kuno yang musnah 1.300 tahun yang lalu. Di sana ditemukan debu dan pecahan tulang, bekas-bekas pengelupasan kulit kepala, mutilasi, bekas luka bakar, dan pemanggangan daging manusia di atas periuk.
Suku Aztec melakukan kanibalisme dalam ritual keagamaannya. Semula, yang menjadi korban adalah tawanan perang, tetapi kemudian merambat pula pada anggota suku sendiri. Diduga, sebagai hukuman bagi kejahatan yang telah dilakukan oleh anggota suku tersebut.
Suku Dayak, selain mengoleksi tengkorak yang telah dikecilkan, ternyata juga memakan jantung korban perangnya. Adat ini disebut ngayau.
Sedangkan Suku Kapau di Papua Nugini menyantap hati dan biseps kanan musuh bebuyutannya.
Etnis lain di Papua, Fore, mengkonsumsi otak manusia yang telah meninggal. Dari sinilah awal penyebaran penyakit kuru. Kuru adalah penyakit degenerasi syaraf yang menyebabkan penderitanya gemetar, kehilangan koordinasi otot, hingga akhirnya tidak dapat duduk tanpa bantuan dan kesulitan untuk menelan. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini hanya dapat menular jika otak penderita disantap oleh manusia lain.
Kuru ditemukan pada awal 1900-an dan mencapai puncaknya pada tahun 60-an. Antara tahun 1957-1968, 1.100 anggota Suku Fore meninggal karena kuru. Jumlah wanita yang terinfeksi penyakit ini delapan kali lebih banyak daripada pria. Diperkirakan, penyebabnya karena kaum wanitalah yang bertugas untuk memasak makanan. Namun, seiring dengan ditinggalkannya praktik-praktik kanibalisme, penyakit kuru nyaris tak lagi ditemukan.
Kita mungkin menyangka kanibalisme hanya dipraktikkan oleh para mbah buyut yang masih primitif. Kenyataannya, manusia modern juga melakukan hal yang sama. Dalam tragedi kecelakaan pesawat di pegunungan Andes pada tahun 1972, 16 orang penumpang yang selamat terpaksa menyantap 29 daging penumpang lainnya yang telah meninggal. Para penumpang asal Uruguay tersebut harus bertahan hidup selama 72 hari sebelum dijangkau oleh tim penyelamat.
Insting untuk bertahan hidup memang tidak berubah dari zaman ke zaman. Tetapi, anda tak perlu coba-coba melakukannya kalau tidak karena terpaksa. Bukan menjadi sakti, malah-malah bisa jatuh sakit.
Posted at 08:41 pm by dria soetomo
Permalink
|
|
|